Tuesday, October 11, 2011

Belajar Kebebasan dari Senor Guardiola

Siapa yang tidak kenal dengan Pep Guardiola? Muda, sukses sebagai pemain dan sekarang manajer di Klub FC. Barcelona. Ia memiliki pemain-pemain yang brilian. Tapi tetap saja kesuksesan itu berasal dari kemampuan senor Guardiola dalam meramu permainan.

Tapi ada hal menarik yang bisa kita pelajari dari diri Guardiola yang mungkin sangat jarang kita dapatkan di pribadi yang lain. Mantan pemain Barcelona yang dulu berposisi sebagai gelandang bertahan tersebut saat ini hanya memiliki batas kontrak manajer dengan Barcelona hingga 2012. Ketika ditanya kenapa ia tidak memperpanjang kontraknya layaknya pemain atau pelatih lain dalam durasi 4 tahun atau lebih jawabannya adalah, kebebasan.

Dalam dunia olahraga atau sepak bola atau dalam apapun ia sadar bahwa segalanya sangat mudah berubah. Dia tidak ingin nantinya bila ia kemudian memperpanjang kontraknya kemudian dia sudah tidak lagi merasa nyaman “tertantang”, kinerjanya malah memburuk. Oleh sebab itu, ia hanya akan memperpanjang kontrak dalam satu atau dua tahun saja.

Bila tahun depan ia tidak lagi menemukan kenikmatan dalam mengatur suatu klub ia tidak terbebani untuk tetap bertahan. Ia bisa berpindah sesuai dengan keinginannya. Mungkin ini adalah salah satu ciri orang yang memang yakin dirinya memiliki kualitas. Dan tidak ada yang bisa menentukan masa depannya kecuali dirinya sendiri.

Menurut saya kita juga harus belajar dari Guardiola. Seringkali kita takut kehilangan pekerjaan, jabatan, posisi dan kenyamanan jangan-jangan karena memang kita kurang memiliki kompetensi dalam memegang amanah. Bila kita yakin diri kita adalah orang yang mampu, niscaya kita malah tidak ingin dikontrak dan menghabiskan sisa usia di dalam pekerjaan yang sangat tidak menyenangkan bagi kita.

Simple, sederhana tapi tidak mudah. Tapi bila kita ingin merasakan kebebasan yang sebagaimana dirasakan oleh Guardiola mari kita terus belajar dan belajar sehingga kita tidak perlu takut untuk kehilangan posisi atau jabatan karena kita tahu bahwa kita adalah orang yang dibutuhkan untuk menghadirkan kemenangan-kemenangan.

Wallahu A’lam bish showab

Friday, September 16, 2011

Gadis Cantik Vs Nenek Tua


Kisah ini kamu pasti sudah pernah mendengarnya. Tapi menurutku mungkin yang kamu dengar mungkin belum lengkap. Atau mungkin juga sudah lengkap aku tidak tahu. Anyway berikut adalah sebuah kisah tentang apa itu paradigma.
Di dalam sebuah kelas di program studi psikologi di sebuah universitas sang dosen membagi mahasiswa menjadi dua kelompok. Kelompok pertama di kelas A dan kelompok kedua di kelas B. Di mahasiswa kelas A, sang Dosen memberikan sebuah gambar di depan para mahasiswa. Tapi sebelum gambar tersebut ditampilkan sang Dosen berkata,”Sebentar lagi kalian akan melihat sebuah gambar seorang gadis muda yang cantik menawan, ingat ya, seorang gadis yang cantik dan menawan!”.
Setelah itu ditampilkanlah gambar yang dimaksud. Para mahasiswa kemudian mengangguk, membenarkan apa yang telah dikatakan oleh sang Dosen.
Setelah para mahasiswa di kelas A selesai dengan gambar yang terpampang, di kelas B, sebuah aktivitas yang sama pun terjadi. Tapi yang diucapkan olen sang Dosen sedikit berbeda.
Tetap dengan gambar yang sama, tapi ucapan sang Dosen ternyata, “Sebentar lagi kalian akan melihat gambar seorang nenek-nenek tua yang mungkin lebih mirip nenek sihir dari pada manusia”. Kemudian ditampilkanlah gambar yang sama. Para mahasiswa ternyata juga mengangguk-angguk. Mereka membenarkan perkataan sang Dosen.
Kamu pasti sudah tahu gambar seperti apa yang ditampilkan oleh sang Dosen.
Ceritanya tidak berhenti di sini.... ia masih berlanjut.
Setelah keduanya mendapatkan gambar yang sama tapi dengan pandangan yang berbeda kedua kelompok mahasiswa ini dipertemukan.
Ketika mereka berkumpul, sang dosen bertanya sambil menampilkan gambar yang telah ditunjukkan. “Gambar apakah ini?” Para Mahasiswa A dengan semangat menjawab bahwa gambar itu adalah gambar seorang gadis muda. Para mahasiswa B tidak terima dengan jawaban itu. “Gadis cantik, yang benar saja, itu adalah gambar seorang nenek tukang sihir”.
Para mahasiswa A yang mendengar jawaban sinis seperti itu tidak terima. Mereka pun membalas, “Matamu buta ya? Nenek-nenek dari Hongkong!”
Ejek-mengejek masih berlanjut dan masing-masing tidak terima dengan pendapat dari kelompok mahasiswa yang lain. tidak berapa lama setelah keadaan sedikit mereda. Ada nada-nada pertanyaan dari sebagian mahasiswa kelompok A. “Iya ya, kok sepertinya gambar itu bisa mirip dengan nenek-nenek”. Sebaliknya sebagian kelompok B berkata, “Kalian juga mungkin ada benarnya, kalo diamati dengan seksama gambar itu juga gambar seorang gadis yang cantik.”
Seketika kemudian mereka tidak lagi bersitegang, mereka malah kemudian bertukar pendapat, apa bukti-bukti yang menunjukkan bahwa gambar tersebut adalah gambar nenek-nenek atau seorang gadis muda. Akhirnya kemudian kedua kelompok tersebut sepakat bahwa gambar tersebut memang adalah gambar yang bisa menjadi gambar nenek-nenek dan gambar gadis muda.
Sang dosen kemudian tampil. “Para muridku, itulah yang namanya paradigma, ia hanya pandangan, bukan gambar yang sebenarnya dari kenyataan. Pandangan itu muncul dalam pikiran. Pikiran sangat dipengaruhi oleh masa lalu, asumsi, pengalaman, pengetahuan dan lain sebagainya. Dan sebelum kalian melihat gambar itu, aku telah memberikan asumsi kepada kalian dua gambar yang berbeda, padahal sebenarnya satu gambar yang sama.”
“Permasalahan di dunia ini muncul seringkali sebagaimana kalian bertengkar di awal kalian dipertemukan. Masing-masing memiliki pandangan gambar tersendiri yang menurutnya paling benar. Tapi hanya dengan diskusi yang tenang dan tidak gampang terpancing emosi serta semangat untuk menemukan jawaban sajalah akhirnya sebuah kesepakatan atas sebuah masalah dan solusinya bisa ditemukan. Ingat hanya dengan diskusi dengan kepala dingin saja, perbedaan paradigma itu bisa dipersatukan dan usaha untuk memunculkan solusi akan jauh lebih mudah.
Oleh-oleh dari buku Seven Habits of Highly Effective People. Karya Steven Covey dengan terjemahan bebas rasa Anas.

Tuesday, September 13, 2011

Melihat Kepribadian dari Cara Makan Tempe Penyet


Aku dan istriku adalah dua orang fans makanan yang satu ini. Ya, tempe penyet. Sebuah hidangan yang jamak dijumpai di Surabaya terutama di daerah sekitar kampus. Setelah kami menikah, kami pun tetap suka dengan tempe penyet karena kesederhanaan dan kecepatan penyajiannya terutama. Inilah fast food asli Indonesia.

Setelah beberapa kali kami makan malam bersama, ternyata ada beberapa temuan yang kudapatkan ketika menyantap tempe penyet,

1. Aku dan istriku ternyata memiliki kebiasaan dan karakter yang berbeda pada masing-masing kami.

2. Meskipun berbeda, aku melihatnya sebagai sebuah keseimbangan, yang satu melengkapi yang lain.

3. Istriku lebih spontan dan kreatif, ia cenderung lebih terbuka dan menyukai kejutan-kejutan.

4. Sedangkan diriku lebih teratur, rapi, langkah yang tertata, dan senang dengan kesempurnaan.

Dua kepribadian yang berbeda ini menghasilkan cara makan yang berbeda. Istriku ketika menghadapi tempe penyet, ia langsung akan menyiramkan sambal dan mencampurnya dengan rata dengan nasi. Sedangkan diriku, akan memisahkan sayuran, nasi, lauk pauk dan sambal. Aku akan mengambil sedikit demi sedikit dan berusaha agar kesemuanya akan habis pada saat yang bersamaan.

Meskipun berbeda, kami tidak keberatan dengan perbedaan ini, bahkan seringkali perbedaan inilah yang menjadi bumbu dalam kehidupan rumah tangga kami. Yang satu lebih spontan dan kreatif, dan yang lain lebih teratur dan konsisten.

Mungkin lebih banyak lagi cara makan dan kepribadian lain yang bisa disaksikan selain kami berdua. Semoga tambahan ini bisa menjadi pengetahuan baru dalam ilmu Psikologi.

Komentar dan pertanyaan bisa dituliskan di bawah tulisan ini pada kolom komentar.

Wallahu A’lam bish Showab

Tuesday, August 23, 2011

Hati-hati! Optimisme Dekat dengan Kebodohan

Apakah judul di atas tidak terlalu berlebihan?
Jawabannya ternyata tidak. Hal ini diungkapkan oleh Heidi Grant Halvorson, seorang motivator psikologis. Berikut adalah pendapatnya yang memiliki judul asli “Be an Optimist Without Being a Fool”.
Banyak motivator dan penulis buku perkembangan diri (self-improvement) memberikan pesan berikut: “Yakinilah bahwa kesuksesan dengan mudah akan datang kepadamu! Maka kesuksesan itu akan datang”. Ada satu masalah dalam pernyataan tersebut, yakni pernyataan tersebut ternyata SALAH.
Memvisualisasikan kesuksesan yang tanpa usaha bukan hanya tidak membantu, bahkan membahayakan. Cara ini adalah cara yang paling mudah untuk memperdaya lawan bicara. Pernyataan tersebut sebenarnya adalah sebuah resep untuk kegagalan.
Tapi bagaimana mungkin? Bukankah optimisme adalah sesuatu yang baik? Tentu saja. Optimisme dan kepercayaan diri yang dimunculkannya sangat penting untuk menumbuhkan dan menjaga semangat yang dibutuhkan untuk meraih tujuan (kesuksesan). Albert Bandura, salah seorang pendiri psikologi ilmiah, menemukan berabad-abad lalu bahwa perkiraan yang bisa menentukansukses atau tidaknya seseorang adalah yakin atau tidaknya mereka bahwa mereka akan sukses. Ribuan penelitian dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya, pendapat Bandura belum terbantahkan.
Tapi ada sebuah peringatan penting: untuk meraih kesuksesan, perlu dipahami, terdapat perbedaan penting antara yakin berhasil dan yakin berhasil dengan mudah. Atau dalam bahasa kerennya, perbedaan antara optimis yang realistis (realistic optimist) dan optimis yang tidak realistis (unrealistic optimist).
Orang-orang optimis- realistis (ini yang dimaksudkan oleh Bandura) meyakini bahwa mereka akan berhasil, sukses, tetapi mereka juga yakin bahwa mereka harus berusaha agar kesuksesan mereka terwujud – melalui hal-hal seperti kerja keras, perencanaan yang matang, ketegaran, dan pemilihan strategi yang tepat. Mereka sadar, memberikan perhatian yang serius tentang bagaimana mengatasi permasalahan adalah sebuah kebutuhan. Persiapan model seperti ini malah akan meningkatkan kepercayaan diri mereka untuk menyelesaikan permasalahan.
Orang-orang optimis- tidak realistis, di sisi lain, yakin bahwa kesuksesan akan datang kepada mereka – dan alam semesta akan memberikan hadiah atas pikiran postif mereka, atau entah bagaimana caranya dalam semalam mereka akan berubah menjadi orang yang sanggup mencegah datangnya permasalahan. (sepertinya mereka lupa bahwa Superman punya kelemahan dengan Kryptonit, permasalahan dengan identitas rahasia yang susah dijaga, dan permasalahan dalam hubungan).
Salah satu ilustrasi tentang berbahayanya optimis yang tidak realistis terekam dalam sebuah penelitian tentang penurunan berat badan pada wanita. Psikolog, Gabriele Oettingen, menanyakan bagaimana perasaan mereka ketika menjalani program penurunan berat badan. Dia menemukan bahwa wanita-wanita yang percaya akan berhasil, ternyata berhasil menurunkan berat badannya 26 pound (12 kg) lebih banyak dari orang yang ragu-ragu.
Tetapi Oettingen juga bertanya bagaimana mereka membayangkan diri mereka ketika menjalani program diet dan berhasil – apakah mereka membayangkan bahwa mereka akan mendapatkan kesulitan untuk menahan godaan, atau mereka dengan mudah menolak cemilan dan makanan gratisan. Hasilnya mengejutkan: wanita yang membayangkan akan adanya permasalahan dalam program dietnya turun 24 pound (11 kg) lebih banyak dari mereka yang meyakni bahwa mereka akan berhasil dalam program diet dengan mudah.
Dia menemukan sebuah pola yang sama dalam penelitian tentang sarjana yang mencari pekerjaan setelah lulus kuliah, mereka yang mencari pasangan yang sejati, dan mereka yang dalam proses penyembuhan pasca operasi. Orang yang optimis- realistis mengirim lebih banyak lamaran, lebih berani untuk menemukan pasangan, dan lebih bekerja keras dalam latihan rehabilitasinya –akhirnya, menjadikan masing-masing memiliki tingkat kesuksesan yang lebih tinggi.
Meyakini bahwa jalan menuju kesuksesan akan berbatu menuntun ke arah kesuksesan yang lebih besar karena keyakinan tersebut akan memaksa anda untuk mengambil tindakan. Orang yang percaya bahwa mereka akan sukses dan dengan seimbang mempercayai bahwa kesuksesan tidak datang dengan mudah, berusaha lebih keras, merencanakan bagaimana mereka akan menangani masalah sebelum masalah itu muncul, dan tegar lebih lama dalam menghadapi kesulitan.
Orang-orang yang optimis-tidak realistis dengan gembira akan mengatakan bahwa anda ini “terlalu negatif” saat anda menyatakan kekhawatiran, membuat rencana cadangan dan terlalu lama untuk memikirkan masalah yang ada merintangi jalan menuju kesuksesan. Padahal sebenarnya cara berfikir seperti ini adalah sebuah langkah yang penting dalam usaha menuju kesuksesan dan hal ini bukanlah antitesis dari sebuah optimisme kepercayaan diri. Fokus hanya pada yang kita inginkan dan tidak mengindahkan lainnya adalah sebuah cara berpikir yang naif dan ceroboh yang telah menyebabkan banyak pemimpin berada dalam permasalahan yang besar.
Tumbuhkanlah optimisme- realistis dengan mengkombinasikan perilaku positif dengan sebuah penilaian yang jujur akan tantangan yang telah menunggu. Jangan memvisualisasikan kesuksesan saja – visualisasikan juga langkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk membuah kesuksesan terjadi.
Diterjemahkan dari Be an Optimist Without Being a Fool, karya Heidi Grant Halvorson.
Heidi Grant Halvorson, Ph.D. adalah seorang motivator psikolog dan pengarang dari buku Succeed: How We Can Reach Our Goals (Hudson Street Press, 2011). Dia juga adalah seorang blogger yang ahli tentang motivasi dan kepemempinan bagi Fast Company and Psychology Today. Blog pribadinya, The Science of Succes bisa di akses di www.heidigranthalvorson.com
http://blogs.hbr.org/cs/2011/05/be_an_optimist_without_being_a.html

Sunday, July 24, 2011

Anomali Abu Bakr

Keanehan bisa kita lihat pada kejadian sejarah kepemimpinan Abu Bakr. Keanehan inilah yang saya sebut dengan anomali. Karena di awal kepemimpinannya ada sesuatu yang tidak sesuai dengan cerita-cerita sebelumnya tentang dirinya.

Hal ini diawali dengan ketegaran dirinya ketika menghadapi kematian Rasulullah saw. Ketika itu ia diberitahu bahwa Rasulullah telah meninggal. Dari rumahnya yang berada di pinggiran kota Madinah, ketika ia datang ia telah melihat Umar berpidato: “Barang siapa yang mengatakan bahwa Muhammad telah meninggal maka akan kupenggal lehernya, ia tidak meninggal ia sebagaimana Imran hanya bersemedi selama 40 hari kemudian ia akan kembali lagi”.

Abu Bakr menyaksikan jasad Rasulullah, “Engkau wangi ketika masih hidup, dan tetap wangi ketika ajal telah menjemputmu”. Ia kemudian keluar, di tengah keramaian Abu Bakr berpidato, “Barang siapa yang menyembah Muhammad, Muhammad telah mati. Barang siapa yang menyembah Allah, Allah tetap hidup”. Setelah itu Umar bin Khattab terjatuh, pingsan tak sadarkan diri.

Aneh, Abu Bakr yang dianggap Rasulullah sebagai khalil (teman setia), ternyata tidak mengalami keguncangan sebagaimana Umar. Ia kelihatan tegar dan kuat menghadapi meninggalnya Rasulullah. Padahal dia dikenal sebagai seseorang yang lemah lembut, gampang terenyuh melihat penderitaan orang lain, mudah iba dan menangis. Ia juga orang yang memiliki kedekatan yang lebih dari sahabat lainnya, tapi mengapa ia bisa tegar menghadapi semua itu?

Anomali yang kedua, ketika Abu Bakr menjadi khalifah, ia memerintahkan Abu Ubaidah bin Al Jarrah untuk berangkat untuk menghadapi para para tentara Romawi yang berhasil menguasai daerah perbatasan. Banyak yang menganjurkan agar Abu Bakr mengurungkan niatnya. Karena ketika itu kondisi di Madinah dan sekitarnya belum kondusif pasca meninggalnya Rasulullah. Umar pun mengingatkan, sebaiknya pasukan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah disiapkan untuk mempertahankan Madinah. Abu Bakr tidak bergeming. “Bagaimana aku akan menyalahi perintah yang sudah diberikan oleh Muhammad Rasulullah saw yang meminta agar pasukan ini berangkat?”

Anomali yang ketiga adalah ketika Abu Bakr menentukan akan memerangi orang yang murtad dan tidak mau membayar zakat. Untuk memerangi orang yang murtad adalah sebuah keputusan yang wajar, tapi memerangi orang yang tidak membayar zakat, banyak yang memepertanyakan. “Meraka khan sudah dijamin darah dan kehormatan oleh Rasulullah”, kata beberapa sahabat termasuk Umar bin Khattab.

“Barang siapa yang memisahkan antara shalat dan zakat, aku akan memeranginya meski aku adalah orang yang terakhir yang melaksanakannnya”. Abu Bakr mengulangi ucapan ini berkali-kali. Yang akhirnya beberapa sahabat melakukannya.

Aneh, orang yang biasanya low profile, rendah hati, mudah tersentuh sekarang ini menjadi orang yang tegas bahkan terkesan keras. Anomali apakah ini?

Ini adalah sebuah hasil dari sebuah keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia tidak lagi peduli dengan segala resiko yang akan ia terima, yang ia pedulikan adalah bagaimana ia nanti akan menghadap Rabb-nya dan ingin bertemu sahabatnya Rasulullah saw di akhirat. Sebuah keimanan yang membuahkan sebuah keteguhan yang tak tergoyahkan. Sebuah keyakinan yang membebaskan diri dari pandangan manusia.

Akankah ada anomali seperti Abu Bakr?

Wallahu A’lam Bish Showab

Thursday, July 21, 2011

Eh, Eh Ini Ada Orang, Jangan Diinjak-injak.

Ini adalah kata-kata saya yang menggambarkan kejadian ketika itu.

Setelah Rasulullah wafat beberapa orang Anshar berkumpul di rumah Sa’ad bin Ubadah. Sang empunya rumah yang ketika itu sedang sakit mendengar kerumunan orang di depan rumahnya, ia meminta untuk ditandu keluar.

Ternyata beberapa orang dari Anshar khawatir bagaimana nasib mereka setelah Rasulullah wafat. Siapa yang berhak memimpin kaum muslimin? Apakah orang Muhajirin, ataukah orang Anshar. Para pemuka Anshar yang datang berdalih.

“Kaum mereka (Quraisy) tidak menerima dakwah Rasulullah padahal ia dari mereka. Kini setelah mereka kuat, apakah mereka akan kita biarkan mengambil kekuasaan kita”. Banyak orang menyepakati ucapan ini. “Ya betul, itu betul, tidak boleh kita menyerahkan kekuasaan ini kecuali kepada orang Anshar”.

“Tapi Muhajirin adalah kaum yang dimulyakan, bagaimana bila satu amir dari kita dan satu amir dari mereka”, pendapat kedua muncul. “Ya, betul itu juga betul”. Sa’ad bin Ubadah tidak senang dengan pendapat yang satu ini karena pengusung pendapat pertama akan mengangkatnya jadi pimpinan.

Di tempat lain, Abu Bakr, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah bin Al Jarrah diberikan laporan terkait diskusi yang ada di rumah Sa’ad bin Ubadah. Pada awalnya Umar dan Abu Ubaidah yang bergegas, mereka meminta agar Abu Bakr ikut namun ia masih ingin merawat jenazah Rasulullah. “Abu Bakr ini penting!”. Abu Bakr pun ikut dengan Umar dan Abu Ubaidah.

Di rumah Sa’ad situasi memanas dengan kedatangan tiga orang ini. Abu Bakr dan Umar, dua orang wazir Rasulullah, Abu Ubaidah panglima dengan pasukan yang sudah siap dengan baju perang dan perlengkapannya. Abu Bakr berkata kepada Umar, “Biarkanlah aku yang berbicara, bila setelah itu terserah apakah kau juga mau berbicara”.

Setelah Abu Bakar bicara, masih banyak Anshar yang tetap tidak berubah satu amir dari kami dan satu amir dari kamu. Umar naik pitam “Bah, tidak mungkin ada dua biduk dalam satu perahu!”. Akhirnya semua ramai, kacau. Untung ada Abu Ubaidah bin Al Jarrah.

Ia berkata, “Wahai saudaraku Anshar, bukankah kalian dulu pertama kali yang membantu? Apakah sekarang ini kalian ingin menjadi yang pertama memberontak?” Sahabat Anshar turun amarahnya. Seorang sahabat Anshar kemudian berbalik mendukung Muhajirin untuk memegang kekhalifahan. Serta merta Abu Bakr mengangkat tangan Umar dan Abu Ubaidah, “Aku siap membaiat dari dua orang ini siapa yang kalian sukai”.

Orang Anshar kelihatan bingung, Umar, wah bisa berabe nih (mungkin ini pikiran orang Anshar ketika itu). Abu Ubaidah masih muda. Umar kemudian berkata, “Aku membaiatmu Abu Bakr sebagai khalifah”. Abu Ubaidah juga berkata hal yang sama. Para sahabat Anshar kemudian berbondong-bondong membaiat Abu Bakr.

Di keriuhan baiat Abu Bakr, terdengar suara. “Eh, hati-hati, ada orang sakit jangan diinjak-injak”. Si empunya rumah sedang sakit, tidak berhasil dibaiat, tidak bisa bangun kini malah jadi sasaran injak-injakan massa yang berebut membaiat Abu Bakr.

KALO BAHASA SAYA, “HE REK, AKU JEK ONO IKI, AKU LARA, OJO DIPIDHAK’I! ATUH, ATUH, ATUH”. Tertawa sendiri bila mengingat cerita ini. Kok yo ono wae cerito sing model koyo ngene!.

Wkwkwkwkwkwkwk.

Wallahu A’lam bish Showab.

Tuesday, July 19, 2011

Pernahkah Engkau Menangisi Rasulullah?

Semalam, 18 Juli 2011, selepas Isya kusempatkan membaca sirah sahabat. Kali ini Abu Bakr Ash-Shidiq. Karya Muhammad Husein Haikal ini memang terasa berbeda, bahasanya yang bak bahasa novel menyihirku seketika.

Aku berhenti ketika membaca kisah bagaimana pembelaan Abu Bakr kepada Rasulullah saw. Namun bukan Abu Bakr yang membuatku menangis, tapi perjalanan hidup Rasulullah yang membuatku menitikkan air mata.

Dikisahkan bahwa pernah suatu hari Rasulullah ketika datang di area Mekkah ia telah diteror dengan ancaman dari kafir Quraisy. Tidak kuasa aku mengisahkannya lagi. Sungguh teramat pilu. Beliau yang mencintai umatnya diperlakukan seperti orang yang tidak memiliki pembelaan sama sekali.

Baju beliau ditarik-tarik oleh banyak orang yang mengerubutinya. "Hai Muhammad apakah benar engkau berkata begini-begini?" Dan Rasulullah pun membalas, "Ya memang aku berkata begini dan begini".

Selanjutnya aku tidak bisa membayangkan cacian-cacian apa yang diberikan oleh penduduk Mekkah kepada Rasul kita yang satu ini. Sampai-sampai Abu Bakr datang dan menghalau orang yang mengerubutinya, menarik bajunya. Sambil menangisi Rasulullah ia berkata, "Mengapa kalian melakukan hal seperti ini kepada orang yang menyatakan keesaan Tuhannya?"

Subhaanallah, Aku tidak tahu lagi seandainya bertemu denganmu Ya Rasulullah, kalimat apa yang akan aku ucapkan. Engkau adalah orang yang paling mulia di dunia ini tapi engkau rela dicaci maki oleh orang-orang yang tidak tahu, dan engkau tidak membalas. Engkau dihina dan diancam namun engkau malam membalas dengan senyum dan tutur kata yang lembut.

Bagaimana aku tidak menangis ketika aku membaca kisah tersebut, dan bagaimana aku tidak menangis ketika aku menceritakannya kembali? Engkau duhai Rasulullah adalah orang yang bersih dari dosa, namun engkau tidak membalas perlakuan keji dari umatmu sendiri bahkan Kau mengkhawatirkan mereka ketika ajal menjemput...

Semoga sholawat dan salam senantiasa atasmu Rasulku....

Wallahu A'lam Bishshowab.