Ide tulisan ini sudah lama menggelayuti kepalaku. Hampir lima tahun yang lalu aku sudah bercita-cita untuk menulis tentang Mahfudzot, bahkan mungkin lebih. Tapi ketika itu hingga sekarang semua ide tinggal ide tidak ada yang terwujud.
Kini alhamudulillah setelah gairah menulisku kembali, kuharap bisa melaksanakan cita-citaku.
Tulisan ini berisi pendahuluan tentang apa itu mahfudzot?
Banyak orang yang mungkin tidak tahu Mahfudzot. Karena istilah Mahfudzot ini kutemukan di Gontor. Salah satu yang sudah terkenal adalah Man Jadda Wa Jada. Yang kini sudah menjadi judul sebuah buku.
Sebenarnya masih banyak kata-kata mutiara lain selain Man Jadda Wajada di dalam Mahfudzot. Namun tidak terekspos oleh banyak orang. Selain itu ketika aku membaca buku-buku self help dari Stephen Covey dan Anthony Robbins banyak isinya ternyata sama dengan mahfudzot yang harus aku hapalkan dulu ketika masih di Gontor.
Nilai-nilai mahfudzot adalah sebuah nilai universal bagi manusia, ia juga menjadi bagian dari pemikiran para pemikir-pemikir besar. Hal ini aku sadari ketika aku mencoba untuk mengartikan kalimat-kalimat dalam mahfudzot.
Dengan bermodalkan sebuah kamus bahasa Arab Munjid (seperti oxford, menerjemahkan kata bahasa Inggris dengan Inggris) aku menerjemahkan kata-kata bahasa Arab dengan bahasa Arab. Ya setelah itu tentu saja aku masih membutuhkan bantuan dari kamus Arab-Indonesia untuk lebih memahaminya. Semoga bisa menjadi lebih baik.
Wallahu A'lam
Mencari inti hidup dari Ayat-ayat Quran, serial Mahfudzot, serial Sun Tzu, serial HBR (Harvard Business Review), kehidupan sehari-hari dan sebagainya
Saturday, May 28, 2011
Friday, May 27, 2011
Mendekati Final Champions, Tiki-Taka Barca atau Determinasi MU?
Mendekati final Champions Eropa kondisinya kini berbeda dengan ketika liga masih berjalan. Sekarang muncul beberapa pandangan baru tentang siapa yang layak mendapatkan juara. Tiki-taka Barcelona ataukah Kick and Rush MU? Siapa yang layak mendapatkan juara? Tidak bisa diputuskan dengan meyakinkan, semua hanya menduga.
Barcelona dikenal sebagai tim yang ciamik, gaya bermainnya indah dilihat. Terlebih lagi dengan aksi individu dari sang Messiah. Barcelona bahkan diprediksi oleh Mbah Wenger akan menguasai 70% penguasaan bola. Sementara MU cuma 30%.
MU juga pernah dikenal sebagai tim dengan tiki-taka ketika era Beckham, Keane, Scholes dan Giggs berjaya. Tim dengan pemain tengah terhebat kala itu. Kini era berganti. MU bermetamorfosa menjadi tim yang memiliki pemain tengah dengan determinasi tinggi. Semangat membara tidak kenal menyerah kini mendominasi lini tengah MU. Kemampuan untuk merusak permainan musuh kini dimiliki oleh MU.
Kini tinggal kemampuan tim meningkatkan keunggulan masing-masing. Barcelona dengan tiki-takanya akan jelas bermain dengan gaya bermainnya yang maksimal. Kerjasama satu-dua dan umpan terobosan akan banyak dipergakan. Sedangkan MU akan memperkuat pemain tengah yang tinggi determinasinya. Mencoba mengganggu dan merusak pola permainan tiki taka lawan akan menjadi kunci kemenangan MU.
Bila permainan tengah telah dimenangkan MU, tinggal menunggu waktu untuk menemukan momen crossing dan serangan balik. Sebagaimana pernah diperagakan oleh Real Madrid yang mengalahkan Barcelona di Final Piala Raja. Madrid bermain keras dan penuh determinasi, membuat Barcelona kesulitan memperoleh peluang dan dengan serangan balik, Ronaldo berhasil mencetak gol.
Ketika itu terlihat jelas, Barcelona memenangkan penguasaan bola. Tapi Madrid berhasil memberikan serangan yang memenangkan pertandingan.
Soal bertahan, MU adalah yang terbaik di Inggris, tapi bisakah ia menahan tiki-taka Barca. Bola itu bulat. Semua bisa terjadi. Yang menjadi penentu kemenangan adalah MU bukan Barca. Bisakah lini tengah MU membongkar tiki-taka Barca? Kita lihat saja bersama.
Wallahu A'lam
Barcelona dikenal sebagai tim yang ciamik, gaya bermainnya indah dilihat. Terlebih lagi dengan aksi individu dari sang Messiah. Barcelona bahkan diprediksi oleh Mbah Wenger akan menguasai 70% penguasaan bola. Sementara MU cuma 30%.
MU juga pernah dikenal sebagai tim dengan tiki-taka ketika era Beckham, Keane, Scholes dan Giggs berjaya. Tim dengan pemain tengah terhebat kala itu. Kini era berganti. MU bermetamorfosa menjadi tim yang memiliki pemain tengah dengan determinasi tinggi. Semangat membara tidak kenal menyerah kini mendominasi lini tengah MU. Kemampuan untuk merusak permainan musuh kini dimiliki oleh MU.
Kini tinggal kemampuan tim meningkatkan keunggulan masing-masing. Barcelona dengan tiki-takanya akan jelas bermain dengan gaya bermainnya yang maksimal. Kerjasama satu-dua dan umpan terobosan akan banyak dipergakan. Sedangkan MU akan memperkuat pemain tengah yang tinggi determinasinya. Mencoba mengganggu dan merusak pola permainan tiki taka lawan akan menjadi kunci kemenangan MU.
Bila permainan tengah telah dimenangkan MU, tinggal menunggu waktu untuk menemukan momen crossing dan serangan balik. Sebagaimana pernah diperagakan oleh Real Madrid yang mengalahkan Barcelona di Final Piala Raja. Madrid bermain keras dan penuh determinasi, membuat Barcelona kesulitan memperoleh peluang dan dengan serangan balik, Ronaldo berhasil mencetak gol.
Ketika itu terlihat jelas, Barcelona memenangkan penguasaan bola. Tapi Madrid berhasil memberikan serangan yang memenangkan pertandingan.
Soal bertahan, MU adalah yang terbaik di Inggris, tapi bisakah ia menahan tiki-taka Barca. Bola itu bulat. Semua bisa terjadi. Yang menjadi penentu kemenangan adalah MU bukan Barca. Bisakah lini tengah MU membongkar tiki-taka Barca? Kita lihat saja bersama.
Wallahu A'lam
Walk The Talk
Ini nih yang susah kalo jadi penulis. Apalagi kalo tulisannya mengajak kebaikan. Karena bisa langsung mendapatkan ujian dari empunya kehidupan, Allah SWT. Ketika mengingatkan orang untuk senantiasa tidak putus asa dari rahmat Allah. Muncul ujiannya. Masalah kemudian datang seolah-olah hendak menghancurkan semangat yang ada dalam dada.
Ketika menasehati agar tetap bersabar dalam menjalani kehidupan. Mengingatkan orang lain tentang perkataan Bill Gates bahwa dunia ini tidak adil dan kita harus terbiasa dengan hal itu, muncul ujiannya. Banyak hal-hal yang sepertinya tidak adil bertubi-tubi datang. Dari masalah rumah tangga, kantor dan masalah-masalah lain.
Mungkin itulah ujian yang memang diberikan oleh empunya kehidupan. Ia ingin menguji siapa yang memang jujur dengan ucapan dan perkataannya dan siapa yang berbohong.
Ketika mengingat hal ini terkadang menjadi "keder" juga sih. Kalo di kemudian hari ada sesuatu yang harus aku ingatkan ke orang lain, sudah terbayang nanti yang diuji oleh Allah adalah diri ini terlebih dahulu. Dan ujiannya ingin mengatakan, apakah memang benar yang kamu ucapkan? Apakah iya kamu juga melakukannya?
Kalo bahasanya Anthony Robbins "walk the talk". Ini sepertinya akan menjadi sebuah sunnatullah. Bagi siapa yang berani mengingatkan, maka sebaiknya bersiap-siap untuk diingatkan oleh Allah, Si Empunya Kehidupan dan Alam Semesta. Kalo aku sendiri sih sepertinya tidak mungkin bila tidak menuliskan kejujuran. Meski aku juga takut kalo aku tidak lulus dalam ujian Pemilik Kehidupan. Tapi biarlah. Biarlah aku belajar dari kegagalanku dalam mengatakan kejujuran.
Karena bila tidak mengatakan kejujuran, kebenaran, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Walaupun aku juga tidak bisa mengatakan bahwa yang kukatakan pasti benar. Tapi itulah usahaku untuk mendekatkan diriku kepada kebenaran dan sedikit demi sedikit mendekatkanku pada Pemilik Hidupku.
Wallahu A'lam Bish Showab
Ketika menasehati agar tetap bersabar dalam menjalani kehidupan. Mengingatkan orang lain tentang perkataan Bill Gates bahwa dunia ini tidak adil dan kita harus terbiasa dengan hal itu, muncul ujiannya. Banyak hal-hal yang sepertinya tidak adil bertubi-tubi datang. Dari masalah rumah tangga, kantor dan masalah-masalah lain.
Mungkin itulah ujian yang memang diberikan oleh empunya kehidupan. Ia ingin menguji siapa yang memang jujur dengan ucapan dan perkataannya dan siapa yang berbohong.
Ketika mengingat hal ini terkadang menjadi "keder" juga sih. Kalo di kemudian hari ada sesuatu yang harus aku ingatkan ke orang lain, sudah terbayang nanti yang diuji oleh Allah adalah diri ini terlebih dahulu. Dan ujiannya ingin mengatakan, apakah memang benar yang kamu ucapkan? Apakah iya kamu juga melakukannya?
Kalo bahasanya Anthony Robbins "walk the talk". Ini sepertinya akan menjadi sebuah sunnatullah. Bagi siapa yang berani mengingatkan, maka sebaiknya bersiap-siap untuk diingatkan oleh Allah, Si Empunya Kehidupan dan Alam Semesta. Kalo aku sendiri sih sepertinya tidak mungkin bila tidak menuliskan kejujuran. Meski aku juga takut kalo aku tidak lulus dalam ujian Pemilik Kehidupan. Tapi biarlah. Biarlah aku belajar dari kegagalanku dalam mengatakan kejujuran.
Karena bila tidak mengatakan kejujuran, kebenaran, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Walaupun aku juga tidak bisa mengatakan bahwa yang kukatakan pasti benar. Tapi itulah usahaku untuk mendekatkan diriku kepada kebenaran dan sedikit demi sedikit mendekatkanku pada Pemilik Hidupku.
Wallahu A'lam Bish Showab
Thursday, May 26, 2011
Teruntuk Saudaraku yang Akan Melangsungkan Pernikahan
Kegelisahan itu juga melandaku. Ketika sebuah kemungkinan datang. Bahwa tidak lama lagi akan ada seseorang yang menjadi tanggung jawabku dalam dunia dan akhirat. Betapa tidak berat dan menyesakkan dada. Kekhawatiran lebih tepatnya.
Maklum aku tidak mengenal dengan mendalam siapa yang akan kunikahi. Kecuali hanya sekedar beberapa lembar tulisan yang berisikan tentang dirinya dan impiannya. Tapi entah kenapa, aku merasa tulisan itulah yang kucari-cari selama ini. Yang sebelumnya tidak pernah kutemui.
Padahal aku tahu bahwa dia adalah orang yang terkenal "kejam" bagi para lelaki di kampusku. Cuek, tidak mudah didekati. Terlebih lagi usianya berada di atasku. Bagaimana tidak "ndredeg", meminjam istilah Mas Aan.
Aku pun berinisiatif bertanya kepada seorang ustadz. Harapanku bahwa beliau akan memberikan dukungan atas pilihanku. Nyatanya......
Tidak sama sekali, beliau berpengalaman dalam masalah jodoh menjodohkan. Dan berdasarkan pengalaman beliau kualitas fisik juga harus menjadi pertimbangan penting bukan hanya masalah kepribadian dan keimanan.
Kalo ada yang sama-sama beriman dan cantik, pastilah kita memilih yang lebih cantik.
Tapi lelaki seperti apa sih aku ini memilih wanita yang cantik, aku khawatir menjadi orang yang tidak tahu diri.
Wejangan ustadz malah membuat diriku semakin bimbang. Benarkah Ya Allah pilihanku? Benarkah ia yang kupilih adalah orang yang cocok dengan diriku? Benarkah ia yang kupilih akan menjadi penyejuk jiwaku?
Jauh dalam lubuk hatiku setelah sholat shubuh, aku berdoa kepada Allah, Ya Allah berikanlah aku istri yang bisa memahamiku, bisa mengerti aku, cerdas dalam menangkap pikiranku, pintar dalam menegurku. Karena aku merasakan banyak yang tidak dimengerti orang tentang diriku. Jangan sampai Ya Allah dia menjadi orang yang tidak cocok dengan diriku.
Aku kembali membuka tulisannya. Dia cerdas, tegas dan jujur. Dialah yang kucari selama ini. Ya Allah semua kukembalikan kepada-Mu. Bila memang ia adalah pilihan-Mu untukku, tentramkanlah hati ini Ya Allah. Karena bila hati ini tentram akan kulawan segala rintangan dan halangan dalam perjalanan menuju pernikahan. Tentramkanlah hati ini Ya Allah!.......
Itulah doaku, ketika itu. Terasa setelahnya ketentraman mengalir dalam hatiku. Aku merasa ini adalah jawaban Allah. Berarti dia, Ita Rahmawati, Guru SDIT Al-USwah, lulusan Sastra Inggris Unair '99 adalah jodohku. Insya Allah.
Kini.... aku bersyukur, bahwa aku telah ditolak sebanyak 6 kali agar Allah mempertemukan aku dengan bidadariku di dunia dan di akhirat kelak Insya Allah.
Terima kasih untukmu istriku, yang telah menjadi teman dan sahabat yang menyenangkan ketika bermain, memasak, diskusi, menangis. Bukankah ini sosok yang dulu kupinta kepada Allah...
Tulisan ini kutujukan bagi semua saudaraku yang akan menikah dan telah menikah agar mengingat kembali masa-masa yang "ndredeg".
Semoga hal ini akan menguatkan kita dalam menggapai ridlo-Nya.
Maklum aku tidak mengenal dengan mendalam siapa yang akan kunikahi. Kecuali hanya sekedar beberapa lembar tulisan yang berisikan tentang dirinya dan impiannya. Tapi entah kenapa, aku merasa tulisan itulah yang kucari-cari selama ini. Yang sebelumnya tidak pernah kutemui.
Padahal aku tahu bahwa dia adalah orang yang terkenal "kejam" bagi para lelaki di kampusku. Cuek, tidak mudah didekati. Terlebih lagi usianya berada di atasku. Bagaimana tidak "ndredeg", meminjam istilah Mas Aan.
Aku pun berinisiatif bertanya kepada seorang ustadz. Harapanku bahwa beliau akan memberikan dukungan atas pilihanku. Nyatanya......
Tidak sama sekali, beliau berpengalaman dalam masalah jodoh menjodohkan. Dan berdasarkan pengalaman beliau kualitas fisik juga harus menjadi pertimbangan penting bukan hanya masalah kepribadian dan keimanan.
Kalo ada yang sama-sama beriman dan cantik, pastilah kita memilih yang lebih cantik.
Tapi lelaki seperti apa sih aku ini memilih wanita yang cantik, aku khawatir menjadi orang yang tidak tahu diri.
Wejangan ustadz malah membuat diriku semakin bimbang. Benarkah Ya Allah pilihanku? Benarkah ia yang kupilih adalah orang yang cocok dengan diriku? Benarkah ia yang kupilih akan menjadi penyejuk jiwaku?
Jauh dalam lubuk hatiku setelah sholat shubuh, aku berdoa kepada Allah, Ya Allah berikanlah aku istri yang bisa memahamiku, bisa mengerti aku, cerdas dalam menangkap pikiranku, pintar dalam menegurku. Karena aku merasakan banyak yang tidak dimengerti orang tentang diriku. Jangan sampai Ya Allah dia menjadi orang yang tidak cocok dengan diriku.
Aku kembali membuka tulisannya. Dia cerdas, tegas dan jujur. Dialah yang kucari selama ini. Ya Allah semua kukembalikan kepada-Mu. Bila memang ia adalah pilihan-Mu untukku, tentramkanlah hati ini Ya Allah. Karena bila hati ini tentram akan kulawan segala rintangan dan halangan dalam perjalanan menuju pernikahan. Tentramkanlah hati ini Ya Allah!.......
Itulah doaku, ketika itu. Terasa setelahnya ketentraman mengalir dalam hatiku. Aku merasa ini adalah jawaban Allah. Berarti dia, Ita Rahmawati, Guru SDIT Al-USwah, lulusan Sastra Inggris Unair '99 adalah jodohku. Insya Allah.
Kini.... aku bersyukur, bahwa aku telah ditolak sebanyak 6 kali agar Allah mempertemukan aku dengan bidadariku di dunia dan di akhirat kelak Insya Allah.
Terima kasih untukmu istriku, yang telah menjadi teman dan sahabat yang menyenangkan ketika bermain, memasak, diskusi, menangis. Bukankah ini sosok yang dulu kupinta kepada Allah...
Tulisan ini kutujukan bagi semua saudaraku yang akan menikah dan telah menikah agar mengingat kembali masa-masa yang "ndredeg".
Semoga hal ini akan menguatkan kita dalam menggapai ridlo-Nya.
Thursday, May 5, 2011
MU atau Barcelona? Bagaimana dengan Anda?
Setelah melihat adegan-adegan dalam highlight Champion eropa antara MU dan Schalke plus Real madrid dan Barcelona, sepertinya yang menang kali ini adalah Barcelona.
Tidak enak juga sih ngomong begitu karena aku senang dengan MU. Mereka bermain bagus, rapi dan terorganisir. Cuma untuk kekompakan atau feeling satu tim mereka harus belajar ke Barcelona.
Beberapa kali ini MU kulihat masih belum menemukan pola koordinasi yang pas terutama antara lini tengah dan depan. MU masih menumpukan pada kreativitas individu Nani atau Rooney. Belum ada pembagi bola dan pengatur serangan yang diisi oleh Andres Iniesta atau Xavi Hernandez di Barcelona.
Lagian kalo lihat, dari lawannya di semifinal, MU mungkin lebih ringan daripada Barcelona.
Memang sih semua masih bisa terjadi, tapi kalo melihat dari kondisi tim yang lebih bagus adalah Barcelona melihat dari kuatnya koordinasi antara lini tengah dan depan. Sementara MU memiliki pekerjaan besar untuk itu.
MU mungkin memiliki peluang besar bila membuat serangan balik, karena pemain bertahan Barcelona biasanya cenderung menyerang apalagi bila kondisi skor tidak menguntungkan bagi mereka.
Konsentrasi lini belakang dan gelandang bertahan MU akan menghadapi ujian besar ketika final Champion. So inilah titik kunci MU. Bila mereka sanggup bertahan dengan bagus dan memaksa Barcelona frustasi, mereka mungkin bisa mengharapkan dari serangan balik dari Nani atau Rooney.
I Like MU but I Choose Barcelona as The Perfect Winner this Year.
Tidak enak juga sih ngomong begitu karena aku senang dengan MU. Mereka bermain bagus, rapi dan terorganisir. Cuma untuk kekompakan atau feeling satu tim mereka harus belajar ke Barcelona.
Beberapa kali ini MU kulihat masih belum menemukan pola koordinasi yang pas terutama antara lini tengah dan depan. MU masih menumpukan pada kreativitas individu Nani atau Rooney. Belum ada pembagi bola dan pengatur serangan yang diisi oleh Andres Iniesta atau Xavi Hernandez di Barcelona.
Lagian kalo lihat, dari lawannya di semifinal, MU mungkin lebih ringan daripada Barcelona.
Memang sih semua masih bisa terjadi, tapi kalo melihat dari kondisi tim yang lebih bagus adalah Barcelona melihat dari kuatnya koordinasi antara lini tengah dan depan. Sementara MU memiliki pekerjaan besar untuk itu.
MU mungkin memiliki peluang besar bila membuat serangan balik, karena pemain bertahan Barcelona biasanya cenderung menyerang apalagi bila kondisi skor tidak menguntungkan bagi mereka.
Konsentrasi lini belakang dan gelandang bertahan MU akan menghadapi ujian besar ketika final Champion. So inilah titik kunci MU. Bila mereka sanggup bertahan dengan bagus dan memaksa Barcelona frustasi, mereka mungkin bisa mengharapkan dari serangan balik dari Nani atau Rooney.
I Like MU but I Choose Barcelona as The Perfect Winner this Year.
Wednesday, May 4, 2011
Guru Agama saja memintaku "contekan"
Ngobrol soal UAN jadi ingat masa muda dulu ketika masih SMA. Ndak usah tak sebutkan nama sekolahnya, nanti banyak yang marah. Intinya SMA ku adalah sekolah yang sangat kucintai terlepas dari berbagai kekurangan yang ada.
Aku masih ingat ketika itu, Ebtanas akan datang kalo tidak salah tiga hari lagi, aku dipanggil oleh Kepala Sekolah. Beliau meminta aku untuk berdiskusi berdua. Ternyata beliau minta agar aku memberikan contekan kepada teman-temanku. Ketika itu aku menjawab dengan gemetar tentunya, "Pak, saya bukannya sok suci, tapi kejujuran ini yang memang saya pegang sejak lama. Mungkin tinggal kejujuran ini yang saya punya. Kalo ini juga sampean minta untuk dikorbankan saya ndak mau."
Wiss, Top banget poko'e jawabanku. Seketika itu pula Bapak Kepala Sekolahku terdiam. Aku pun kembali ke kelas.
Kukira itu adalah akhir usaha beliau tapi ternyata keesokan harinya kejadian itu berulang kembali. Tapi kali ini pelakunya beda...
Yang memintaku kali ini tidak tanggung-tanggung, Guru Agama..
Wah, ketika Guru Agamaku yang meminta... rasanya kok ganjil ya!
Tapi itulah yang terjadi... Akhirnya aku pun menyerah walaupun masih terasa berat dadaku ketika itu...
Kini mungkin aku bisa membandingkan... Ya walaupun sebenarnya tidak bisa dibandingkan sih. Sekolahku adalah sekolah swasta, di desa jauh dari fasilitas kota yang lengkap. Jumlah muridnya pun tak seberapa. Kelasku III IPA hanya ada satu kelas, isinya pun cuma 16 orang siswa. Kelas III IPS juga satu kelas dengan jumlah siswa hanya 10 orang.
Kalo ada siswa yang tidak lulus, bagaimana nasib sekolahku ke depan... Akan lebih sedikit lagi murid yang masuk. Lebih banyak lagi guru yang tidak sejahtera. Jadi bolehlah kalo sekolah yang swasta, fasilitas tidak lengkap, muridnya sedikit, banyak yang miskin pula untuk bercontekan. Karena kalau tidak guru, kepala sekolah dan karyawan sekolah akan kesulitan finansial.
Karena alasan itulah mungkin Guru Agamaku memintaku untuk memberikan contekan. Alhamdulillah seluruh siswa lulus.
Tapi ternyata hasil diskusi ku dengan salah satu dosen Unair yang jaga ujian membuyarkan pikiranku. Di sebuah SMU Negeri di Surabaya yang terkenal karena kualitasnya, mereka masih membutuhkan muridnya bercontekan agar lulus 100%. Yang jelas mereka juga pasti punya alasan bagus.
Tapi sekarang aku memiliki sebuah pemahaman baru. Kesulitan tidak boleh membuat kita menghalalkan segala cara. Karena sulit, bukan berarti kita boleh menyerah kepada keadaan. Karena tidak bisa, bukan berarti kemudian kita diijinkan memilih jalan yang salah. Kesulitan, ujian, cobaan hanyalah sebuah kondisi yang ada untuk menguji apakah kita menyerah atau tidak untuk tetap berada dalam kebenaran.
Untuk sekarang mungkin sebagian besar kita masih menyerah......
Wallahu A'lam Bish Showab.
Aku masih ingat ketika itu, Ebtanas akan datang kalo tidak salah tiga hari lagi, aku dipanggil oleh Kepala Sekolah. Beliau meminta aku untuk berdiskusi berdua. Ternyata beliau minta agar aku memberikan contekan kepada teman-temanku. Ketika itu aku menjawab dengan gemetar tentunya, "Pak, saya bukannya sok suci, tapi kejujuran ini yang memang saya pegang sejak lama. Mungkin tinggal kejujuran ini yang saya punya. Kalo ini juga sampean minta untuk dikorbankan saya ndak mau."
Wiss, Top banget poko'e jawabanku. Seketika itu pula Bapak Kepala Sekolahku terdiam. Aku pun kembali ke kelas.
Kukira itu adalah akhir usaha beliau tapi ternyata keesokan harinya kejadian itu berulang kembali. Tapi kali ini pelakunya beda...
Yang memintaku kali ini tidak tanggung-tanggung, Guru Agama..
Wah, ketika Guru Agamaku yang meminta... rasanya kok ganjil ya!
Tapi itulah yang terjadi... Akhirnya aku pun menyerah walaupun masih terasa berat dadaku ketika itu...
Kini mungkin aku bisa membandingkan... Ya walaupun sebenarnya tidak bisa dibandingkan sih. Sekolahku adalah sekolah swasta, di desa jauh dari fasilitas kota yang lengkap. Jumlah muridnya pun tak seberapa. Kelasku III IPA hanya ada satu kelas, isinya pun cuma 16 orang siswa. Kelas III IPS juga satu kelas dengan jumlah siswa hanya 10 orang.
Kalo ada siswa yang tidak lulus, bagaimana nasib sekolahku ke depan... Akan lebih sedikit lagi murid yang masuk. Lebih banyak lagi guru yang tidak sejahtera. Jadi bolehlah kalo sekolah yang swasta, fasilitas tidak lengkap, muridnya sedikit, banyak yang miskin pula untuk bercontekan. Karena kalau tidak guru, kepala sekolah dan karyawan sekolah akan kesulitan finansial.
Karena alasan itulah mungkin Guru Agamaku memintaku untuk memberikan contekan. Alhamdulillah seluruh siswa lulus.
Tapi ternyata hasil diskusi ku dengan salah satu dosen Unair yang jaga ujian membuyarkan pikiranku. Di sebuah SMU Negeri di Surabaya yang terkenal karena kualitasnya, mereka masih membutuhkan muridnya bercontekan agar lulus 100%. Yang jelas mereka juga pasti punya alasan bagus.
Tapi sekarang aku memiliki sebuah pemahaman baru. Kesulitan tidak boleh membuat kita menghalalkan segala cara. Karena sulit, bukan berarti kita boleh menyerah kepada keadaan. Karena tidak bisa, bukan berarti kemudian kita diijinkan memilih jalan yang salah. Kesulitan, ujian, cobaan hanyalah sebuah kondisi yang ada untuk menguji apakah kita menyerah atau tidak untuk tetap berada dalam kebenaran.
Untuk sekarang mungkin sebagian besar kita masih menyerah......
Wallahu A'lam Bish Showab.
Tuesday, May 3, 2011
Masih Soal UAN
Ini nih akibat ngobrol dengan dosen. Jadinya tambah pusing.
Sabtu lalu, aku ngobrol dengan salah satu dosen Farmasi Unair yang aku kenal. Aku tanya apakah tidak jaga ujian? Jawabnya sih jaga. O begitu sama berarti dengan Pak Sapto? Ooo Kenal Lah... Ternyata mereka berdua masuk menjadi dosen di tahun yang sama.
Bagaimana pengalaman menjaga ujian?
Wah, kacau.... Contekan semua pesertanya.
Pengawas ujian sih tidak seperti pengalaman tahun lalu yang sengaja keluar kelas ketika ujian berlangsung. Sekarang semua pengawas ada di dalam kelas. Tapi ya, begitulah mereka diam saja saat peserta contekan.
Ah mosok, kataku. Kok edan Ngono. Enak tenan saiki.
Ya iyalah, sekarang semua pada ketakutan kalo tidak lulus. Sekolah akan malu. Siswa yang daftar jadi sedikit. Atau dapat teguran dari atasan kalo sekolah negri.
Teman yang Dosen itu bahkan bilang. Di Surabaya saja ada sekolah negeri yang beken dan terkenal mengajarkan sistem contekan yang bagus. Murid yang pintar di salah satu bidang studi harus, sekali lagi harus menyediakan contekan bagi teman-temannya. Sehingga nanti ketika ujian berlangsung semua bisa mengerjakan dengan lancar dan bagus.
Kalo ada siswa yang tidak bisa, akan dipanggil guru BP untuk dibriefing lagi. Agar bersedia menyediakan contekan.
Jadi yang menjadi masalah adalah mental dan kejujuran. Kita belum siap untuk gagal. Padahal kita semua tahu bahwa selalu berhasil adalah sesuatu yang mustahil. Kita belum siap untuk berbuat jujur, walaupun kita sendiri mengecam orang-orang yang korupsi sekian tahun. Kalo kita sendiri tidak siap jujur. Tidak siap untuk mengalami kegagalan. Ya terimalah kalo kita dipimpin oleh orang yang tidak jujur dan selalu menyalahkan keadaan dan orang lain.
Wallahu A'lam bish Showab.
Sabtu lalu, aku ngobrol dengan salah satu dosen Farmasi Unair yang aku kenal. Aku tanya apakah tidak jaga ujian? Jawabnya sih jaga. O begitu sama berarti dengan Pak Sapto? Ooo Kenal Lah... Ternyata mereka berdua masuk menjadi dosen di tahun yang sama.
Bagaimana pengalaman menjaga ujian?
Wah, kacau.... Contekan semua pesertanya.
Pengawas ujian sih tidak seperti pengalaman tahun lalu yang sengaja keluar kelas ketika ujian berlangsung. Sekarang semua pengawas ada di dalam kelas. Tapi ya, begitulah mereka diam saja saat peserta contekan.
Ah mosok, kataku. Kok edan Ngono. Enak tenan saiki.
Ya iyalah, sekarang semua pada ketakutan kalo tidak lulus. Sekolah akan malu. Siswa yang daftar jadi sedikit. Atau dapat teguran dari atasan kalo sekolah negri.
Teman yang Dosen itu bahkan bilang. Di Surabaya saja ada sekolah negeri yang beken dan terkenal mengajarkan sistem contekan yang bagus. Murid yang pintar di salah satu bidang studi harus, sekali lagi harus menyediakan contekan bagi teman-temannya. Sehingga nanti ketika ujian berlangsung semua bisa mengerjakan dengan lancar dan bagus.
Kalo ada siswa yang tidak bisa, akan dipanggil guru BP untuk dibriefing lagi. Agar bersedia menyediakan contekan.
Jadi yang menjadi masalah adalah mental dan kejujuran. Kita belum siap untuk gagal. Padahal kita semua tahu bahwa selalu berhasil adalah sesuatu yang mustahil. Kita belum siap untuk berbuat jujur, walaupun kita sendiri mengecam orang-orang yang korupsi sekian tahun. Kalo kita sendiri tidak siap jujur. Tidak siap untuk mengalami kegagalan. Ya terimalah kalo kita dipimpin oleh orang yang tidak jujur dan selalu menyalahkan keadaan dan orang lain.
Wallahu A'lam bish Showab.
Subscribe to:
Posts (Atom)