Wednesday, March 7, 2012

Perjalanan Mencari Kantor Pos


Di bulan Januari 2012 kemarin ada sebuah peristiwa yang mengingatkanku atas kisah yang tertulis di buku Why Man don't Listen and Woman can't Read Maps karangan Barbara-Allan Pease.

Ketika itu, aku dan istri pergi berboncengan dari rumahku di Desa Sembayat menuju Desa Bungah. Tujuannya adalah mencari kantor pos karena aku sudah berjanji kepada tukang pos untuk menyelesaikan sebuah hal yang kami sepakati berdua.

Berangkatlah aku dari rumah. Istriku bertanya, "Hunny sudah tahu tempatnya?". "Sudah" Jawabku. Walaupun di hatiku bertanya-tanya juga, "Sudah lebih dari 10 tahun aku tidak ke kantor pos ini, masih samakah tempatnya?"

Dan yang terjadi terjadilah.

Ternyata betul, tempatnya sudah pindah. Pencarian pun dimulai.

"Waduh, tempatnya sudah pindah Hunny!" Kataku.

"Tuh kan, tadi kenapa tidak tanya ke Bapak atau Ibu sebelum berangkat?" Balas Istriku.

"Sudahlah, nanti kita akan cari bersama, dirimu lihat sisi kiri jalan, aku kanan jalan, oke?" Pintaku.

"Okelah!" Jawab Istriku.

Hampir 1 km perjalanan dan dua kali berbelok masih juga kantor pos itu belum ketemu. Istriku mulai gusar, "Hun, turun saja sebentar ya? Kita tanya ke orang lain."

"Jangan, tidak perlu, nanti juga ketemu". Jawabku.

Kami pun melanjutkan perjalanan.

Setelah beberapa saat, Istriku mencubit keras, "Hayo turun 'ndak? Sini biar aku yang turun dan bertanya". Istriku sudah tidak sabar rupanya.

Setelah bertanya ia berkata, "Kantor pos itu sudah terlewat, kata orang tadi sebelah warung bakso. Dirimu tahu 'ndak warung baksonya?"

"Oooh, tahu aku kalo warung bakso" jawabku. Tapi dalam hati, "Warung bakso yang mana ya? Sudah lebih dari 10 tahun aku tidak ke sini? Betul warung bakso yang kumaksud tidak ya?"

Kami berdua pun kemudian melanjutkan perjalanan.

Melihat diriku yang menjalankan motor lambat dan sering tengok kiri-kanan ia curiga,"Dirimu tidak tahu warung baksonya ya?"

"Iya" kuyu dan merasa bersalah pun nampak di wajahku.

Istriku tambah gemes. "Iih orang ini, bilang saja tidak tahu, pasti akan kutanyakan lagi!"

Untung tidak lama setelah itu muncul kantor pos yang dicari-cari. Aku selamat dari cubitan maut istriku untuk yang kesekian. Alhamdulillah...

Pengalaman serupa juga dimunculkan di buku yan kusebutkan di awal. Ketika seorang lelaki tidak tahu arah, akan butuh waktu lama bagi dia untuk menepi dan bertanya....

Mengapa itu terjadi, simak perjalanan berikutnya!

Wallahu A'lam

Monday, March 5, 2012

Ternyata Kita Bukan Keturunan Pembunuh


"Masak iya sih kita ini keturunan pembunuh?" Hal itu adalah salah satu yang selalu menjadi pertanyaanku sebelum aku membaca buku kisah para nabi dan rasul karangan Ibnu Katsir.

Ini bermula ketika dulu seringkali aku mendengar kisah tentang Qabil dan Habil yang menggegerkan. Qabil membunuh Habil, padahal mereka berdua adalah keturunan langsung dari Nabi Adam as. Celakanya lagi aku memiliki persepsi bahwa anak nabi Adam ya cuma empat itu (Qabil, Habil, Labuda dan Iqlimah: seingatku itulah nama mereka).

Sehingga ketika salah satunya membunuh saudaranya, maka berarti sang pembunuh dong yang punya kans untuk menikah. Ia kan yang hidup setelah itu. Berarti semua manusia adalah keturunan dari Qabil yang membunuh saudaranya.

Kalau aku mengingat-ingat lagi kisah ini aku jadi tertawa-tawa sendiri. Lha kok bisa aku berpikiran seperti itu. Hal itu terjadi karena selama ini aku tidak pernah mendengar dan membaca kisah tentang anak-anak Nabi Adam selain yang empat itu. Padahal nyatanya tidak demikian.

Maka setelah aku membaca kisah Nabi Adam di kisah nabi dan rasul karangan Ibnu Katsir, jelaslah sekarang bahwa anak-anak Nabi Adam tidak hanya empat orang itu. tapi lebih banyak. Bahkan ada riwayat yang menerangkan Hawa melahirkan sebanyak lebih dari 100 kali dengan tiap kelahiran kembar sebanyak dua orang.

Sudah bisa terbayangkan betapa banyak keturunan yang dimiliki oleh Nabi Adam.

Aku tidak tahu apakah ada orang lain yang berpikiran sama denganku? Sebuah pikiran yang polos dan lugu akibat ketidaktahuan dan kurangnya ilmu.

Dengan ini pula aku ingin berbagi kepada teman-teman yang lain soal berbagai macam ilmu dari bacaan-bacaan dan pengalaman yang pernah kudapatkan. Sehingga akan semakin mengurangi kemunculan anggapan-anggapan bodoh yang tidak berdasar yang beredar di antara manusia.

Untuk istriku, terima kasih telah memberikanku hadiah buku yang memang menjadi keinginanku(You are the best, tapi setelah aku ya?). Dan aku memohon maaf kalau masih bisa memberikan hadiah kepadamu selain rasa cinta dan kasih sayangku.

Wallahu A'lam

Monday, November 14, 2011

Sun Tzu, The Art of War (introduction)


Sun Tzu adalah penduduk asili dari negara Ch'i. Karyanya Art of War telah menarik perhatian Ho Lu, Raja dari negara Wu. Ho Lu kemudian berkata kepadanya, "Aku telah membaca ke-13 bab yang telah kau tulis. Bolehkan teorimu dalam mengatur pasukan diujicobakan?"
Sun Tzu menjawab, "Tentu saja."

Ho Lu kemudian bertanya kembali, "Bisakah diujicobakan pada kalangan wanita?"
Jawabannya tetap saja bisa, sehingga kemudian 180 orang wanita dari istana di bawa keluar. Sun Tzu membagi mereka menjadi dua kelompok, dan kemudian tiap kelompok dikepalai oleh selir kesukaan Raja. Kemudian tombak dipersiapkan di masing-masing pasukan dan kemudian memberikan penjelasan kepada mereka, "Aku anggap kalian tahu perbedaan antara depan dan belakang, tangan kanan dan tangan kiri?"

Para wanita tersebut menjawab, "Ya, kami tahu."
Sun Tzu kemudian melanjutkan, 'Ketika aku katakan 'Mata di depan', kamu harus melihat ke depan. Ketika aku bilang 'Tengok Kiri', kalian harus menghadapkan tubuh ke arah tangan kiri. Dan ketika aku bilang 'Tengok Kanan', kalian harus menghadapkan tubuh ke arah tangan kanan kalian. Dan bila aku bilang 'Berbalik', kalian harus menghadapkan tubuh ke arah belakang.
Para wanita itu mengiyakan. Kata-kata perintah telah dijelaskan. Dia kemudian mengatur kapak perang untuk memulai latihan. Kemudian, bersamaan dengan suara gendang yang ditabuh, dia memberikan perintah 'Tengok Kanan'. Tetapi para wanita ini hanya tertawa terbahak-bahak. Sun Tzu berkata: Bila kata-kata perintah tidak jelas dan jernih, bila perintah tidak dipahami sepenuhnya, jendral lah yang harus disalahkan".

Maka ia melatih mereka lagi, dan kali ini ia memerintahkan 'Tengok Kiri' kepada para wanita tersebut, namun mereka kembali tertawa terbahak-bahak. Sun Tzu berkata, "Bila kata-kata perintah tidak jelas dan jernih, bila perintah tidak dipahami, jendral lah yang harus disalahkan. Tapi bila perintahnya sudah jelas, dan para prajuit tetap tidak patuh, maka kesalahan ada pada kepala pasukan."

Kemudian, ternyata dia memerintahkan kepala pasukan dari kedua kelompok untuk dipenggal kepalanya. Raja Wu yang melihat kejadian ini dari atas paviliun, ia kaget karena melihat dua selirnya akan dipenggal, kemudian ia bersegera memberi pesan dan perintah. "Kami cukup puas dengan kemampuan jendral kami menangani tentara. Bila kami kehilangan dua selir ini maka makanan dan minuman kami akan terasa hambar. Kami harapkan mereka untuk tidak dipenggal.

Sun Tzu membalas, "ketika menerima perintah Yang Mulia untuk menjadi jendral pasukan ini, ada beberapa perintah Yang Mulia, sesua dengan kapasitas yang diberikan, tidak bisa saya terima."

Selanjutnya, dua kepala pasukan kemudian dipenggal, dan segera dicarikan pengganti sebagai pimpinan pasukan. Ketika ini sudah terlaksana, genderang sekali lagi ditabuh untuk latihan sekali lagi. Setelah itu para wanita bervolusi, menghadap kiri, kanan, bergerak ke depan atau memutar ke belakang, berlutut, atau berdiri, semua dilakukan dengan akurasi dan ketepatan yang sempurna, tanpa ada keluhan atau suara apapun. Kemudian Sun Tzu mengirim seorang untuk menyampaikan pesan kepada Raja. "Prajurit Yang Mulia, sekaran ini telah dilatih dan disiplinkan, dan siap untuk diinspeksi. Mereka siap diperintahkan untuk apapun. Perintahkan mereka melalui api dan air, dan mereka akan patuh.

Tetapi Sang Raja membalas, "Biarlah jendral kami menghentikan latihannya dan kembali ke kemahnya. Sementara bagi kami, kami tidak berhasrat untuk turun dan menginspeksi pasukan."

Sun Tzu kemudian berkata, "Yang Mulia hanya senang dengan ucapan-ucapan, dan tidak bisa menerjemahkannya dalam tindakan nyata."

Setelah itu, Ho Lu menyatakan bahwa Sun Tzu adalah seseorang yang tahu bagaimana menangani sebuah pasukan, dan kemudian menunjuknya sebagai jendral. Di daerah barat, dia mengalahkan Negara Ch'u dan terus bergerak ke Ying, Ibukotanya. Di daerah utara dia memberikan sensasi takut pada negara Ch'i dan Chin, dan menyebarkan kedigdayaannya kepada para pangeran. Dan Sun Tzu berbagi kejayaan Rajanya.

Dari buku Sun Tzu The Art of War dengan terjemahan bebas rasa Anas

Tuesday, October 11, 2011

Data Josep "Pep" Guardiola

Josep Guardiola

Nama lengkap : Josep Guardiola i Sala
TTL : Santpedor, Barcelona, 18 Januari 1971
Tinggi : 1,83 m
Posisi Bermain : Gelandang Bertahan

Pencapaian sebagai pelatih

http://id.wikipedia.org/wiki/Josep_Guardiola
Data dari

Belajar Kebebasan dari Senor Guardiola

Siapa yang tidak kenal dengan Pep Guardiola? Muda, sukses sebagai pemain dan sekarang manajer di Klub FC. Barcelona. Ia memiliki pemain-pemain yang brilian. Tapi tetap saja kesuksesan itu berasal dari kemampuan senor Guardiola dalam meramu permainan.

Tapi ada hal menarik yang bisa kita pelajari dari diri Guardiola yang mungkin sangat jarang kita dapatkan di pribadi yang lain. Mantan pemain Barcelona yang dulu berposisi sebagai gelandang bertahan tersebut saat ini hanya memiliki batas kontrak manajer dengan Barcelona hingga 2012. Ketika ditanya kenapa ia tidak memperpanjang kontraknya layaknya pemain atau pelatih lain dalam durasi 4 tahun atau lebih jawabannya adalah, kebebasan.

Dalam dunia olahraga atau sepak bola atau dalam apapun ia sadar bahwa segalanya sangat mudah berubah. Dia tidak ingin nantinya bila ia kemudian memperpanjang kontraknya kemudian dia sudah tidak lagi merasa nyaman “tertantang”, kinerjanya malah memburuk. Oleh sebab itu, ia hanya akan memperpanjang kontrak dalam satu atau dua tahun saja.

Bila tahun depan ia tidak lagi menemukan kenikmatan dalam mengatur suatu klub ia tidak terbebani untuk tetap bertahan. Ia bisa berpindah sesuai dengan keinginannya. Mungkin ini adalah salah satu ciri orang yang memang yakin dirinya memiliki kualitas. Dan tidak ada yang bisa menentukan masa depannya kecuali dirinya sendiri.

Menurut saya kita juga harus belajar dari Guardiola. Seringkali kita takut kehilangan pekerjaan, jabatan, posisi dan kenyamanan jangan-jangan karena memang kita kurang memiliki kompetensi dalam memegang amanah. Bila kita yakin diri kita adalah orang yang mampu, niscaya kita malah tidak ingin dikontrak dan menghabiskan sisa usia di dalam pekerjaan yang sangat tidak menyenangkan bagi kita.

Simple, sederhana tapi tidak mudah. Tapi bila kita ingin merasakan kebebasan yang sebagaimana dirasakan oleh Guardiola mari kita terus belajar dan belajar sehingga kita tidak perlu takut untuk kehilangan posisi atau jabatan karena kita tahu bahwa kita adalah orang yang dibutuhkan untuk menghadirkan kemenangan-kemenangan.

Wallahu A’lam bish showab

Friday, September 16, 2011

Gadis Cantik Vs Nenek Tua


Kisah ini kamu pasti sudah pernah mendengarnya. Tapi menurutku mungkin yang kamu dengar mungkin belum lengkap. Atau mungkin juga sudah lengkap aku tidak tahu. Anyway berikut adalah sebuah kisah tentang apa itu paradigma.
Di dalam sebuah kelas di program studi psikologi di sebuah universitas sang dosen membagi mahasiswa menjadi dua kelompok. Kelompok pertama di kelas A dan kelompok kedua di kelas B. Di mahasiswa kelas A, sang Dosen memberikan sebuah gambar di depan para mahasiswa. Tapi sebelum gambar tersebut ditampilkan sang Dosen berkata,”Sebentar lagi kalian akan melihat sebuah gambar seorang gadis muda yang cantik menawan, ingat ya, seorang gadis yang cantik dan menawan!”.
Setelah itu ditampilkanlah gambar yang dimaksud. Para mahasiswa kemudian mengangguk, membenarkan apa yang telah dikatakan oleh sang Dosen.
Setelah para mahasiswa di kelas A selesai dengan gambar yang terpampang, di kelas B, sebuah aktivitas yang sama pun terjadi. Tapi yang diucapkan olen sang Dosen sedikit berbeda.
Tetap dengan gambar yang sama, tapi ucapan sang Dosen ternyata, “Sebentar lagi kalian akan melihat gambar seorang nenek-nenek tua yang mungkin lebih mirip nenek sihir dari pada manusia”. Kemudian ditampilkanlah gambar yang sama. Para mahasiswa ternyata juga mengangguk-angguk. Mereka membenarkan perkataan sang Dosen.
Kamu pasti sudah tahu gambar seperti apa yang ditampilkan oleh sang Dosen.
Ceritanya tidak berhenti di sini.... ia masih berlanjut.
Setelah keduanya mendapatkan gambar yang sama tapi dengan pandangan yang berbeda kedua kelompok mahasiswa ini dipertemukan.
Ketika mereka berkumpul, sang dosen bertanya sambil menampilkan gambar yang telah ditunjukkan. “Gambar apakah ini?” Para Mahasiswa A dengan semangat menjawab bahwa gambar itu adalah gambar seorang gadis muda. Para mahasiswa B tidak terima dengan jawaban itu. “Gadis cantik, yang benar saja, itu adalah gambar seorang nenek tukang sihir”.
Para mahasiswa A yang mendengar jawaban sinis seperti itu tidak terima. Mereka pun membalas, “Matamu buta ya? Nenek-nenek dari Hongkong!”
Ejek-mengejek masih berlanjut dan masing-masing tidak terima dengan pendapat dari kelompok mahasiswa yang lain. tidak berapa lama setelah keadaan sedikit mereda. Ada nada-nada pertanyaan dari sebagian mahasiswa kelompok A. “Iya ya, kok sepertinya gambar itu bisa mirip dengan nenek-nenek”. Sebaliknya sebagian kelompok B berkata, “Kalian juga mungkin ada benarnya, kalo diamati dengan seksama gambar itu juga gambar seorang gadis yang cantik.”
Seketika kemudian mereka tidak lagi bersitegang, mereka malah kemudian bertukar pendapat, apa bukti-bukti yang menunjukkan bahwa gambar tersebut adalah gambar nenek-nenek atau seorang gadis muda. Akhirnya kemudian kedua kelompok tersebut sepakat bahwa gambar tersebut memang adalah gambar yang bisa menjadi gambar nenek-nenek dan gambar gadis muda.
Sang dosen kemudian tampil. “Para muridku, itulah yang namanya paradigma, ia hanya pandangan, bukan gambar yang sebenarnya dari kenyataan. Pandangan itu muncul dalam pikiran. Pikiran sangat dipengaruhi oleh masa lalu, asumsi, pengalaman, pengetahuan dan lain sebagainya. Dan sebelum kalian melihat gambar itu, aku telah memberikan asumsi kepada kalian dua gambar yang berbeda, padahal sebenarnya satu gambar yang sama.”
“Permasalahan di dunia ini muncul seringkali sebagaimana kalian bertengkar di awal kalian dipertemukan. Masing-masing memiliki pandangan gambar tersendiri yang menurutnya paling benar. Tapi hanya dengan diskusi yang tenang dan tidak gampang terpancing emosi serta semangat untuk menemukan jawaban sajalah akhirnya sebuah kesepakatan atas sebuah masalah dan solusinya bisa ditemukan. Ingat hanya dengan diskusi dengan kepala dingin saja, perbedaan paradigma itu bisa dipersatukan dan usaha untuk memunculkan solusi akan jauh lebih mudah.
Oleh-oleh dari buku Seven Habits of Highly Effective People. Karya Steven Covey dengan terjemahan bebas rasa Anas.

Tuesday, September 13, 2011

Melihat Kepribadian dari Cara Makan Tempe Penyet


Aku dan istriku adalah dua orang fans makanan yang satu ini. Ya, tempe penyet. Sebuah hidangan yang jamak dijumpai di Surabaya terutama di daerah sekitar kampus. Setelah kami menikah, kami pun tetap suka dengan tempe penyet karena kesederhanaan dan kecepatan penyajiannya terutama. Inilah fast food asli Indonesia.

Setelah beberapa kali kami makan malam bersama, ternyata ada beberapa temuan yang kudapatkan ketika menyantap tempe penyet,

1. Aku dan istriku ternyata memiliki kebiasaan dan karakter yang berbeda pada masing-masing kami.

2. Meskipun berbeda, aku melihatnya sebagai sebuah keseimbangan, yang satu melengkapi yang lain.

3. Istriku lebih spontan dan kreatif, ia cenderung lebih terbuka dan menyukai kejutan-kejutan.

4. Sedangkan diriku lebih teratur, rapi, langkah yang tertata, dan senang dengan kesempurnaan.

Dua kepribadian yang berbeda ini menghasilkan cara makan yang berbeda. Istriku ketika menghadapi tempe penyet, ia langsung akan menyiramkan sambal dan mencampurnya dengan rata dengan nasi. Sedangkan diriku, akan memisahkan sayuran, nasi, lauk pauk dan sambal. Aku akan mengambil sedikit demi sedikit dan berusaha agar kesemuanya akan habis pada saat yang bersamaan.

Meskipun berbeda, kami tidak keberatan dengan perbedaan ini, bahkan seringkali perbedaan inilah yang menjadi bumbu dalam kehidupan rumah tangga kami. Yang satu lebih spontan dan kreatif, dan yang lain lebih teratur dan konsisten.

Mungkin lebih banyak lagi cara makan dan kepribadian lain yang bisa disaksikan selain kami berdua. Semoga tambahan ini bisa menjadi pengetahuan baru dalam ilmu Psikologi.

Komentar dan pertanyaan bisa dituliskan di bawah tulisan ini pada kolom komentar.

Wallahu A’lam bish Showab