Thursday, June 7, 2012

Jika Ternyata Ta'aruf tak Menjamin Langgeng....

"Bila proses menikah dengan ta'aruf tidak menjanjikan kelanggengan, ya buat apa?" Pernyataan salah seorang sahabat. Dia masih lajang bertanya-tanya dari hasil penglihatannya. Dan kesimpulannya menggelisahkan. Ternyata tidak semua proses menikah dengan jalan yang tanpa pacaran alias ta'aruf bisa langgeng. Bahkan ada yang tanpa pacaran pun bisa langgeng. Terus kenapa harus dengan ta'aruf yang ribet.

"Menarik juga pernyataannya" pikirku. Kalau memang tidak bisa menjamin kelanggengan kenapa harus dipaksakan? Toh tidak ada jaminannya.

Bagaimana bila pertanyaan tersebut kita tingkatkan levelnya sedikit atau kita geser ke arah yang lain. "Apakah ada jaminan bahwa orang yang berusaha itu menjadi kaya?" Jawabannya pasti juga tidak ada. Terus kenapa kok terus berusaha?

"Apakah ada jaminan bahwa orang yang belajar itu pasti sukses?" Jawabannya juga tidak ada jaminan. Terus kenapa terus belajar?

"Apakah ada jaminan bahwa orang yang sholat itu akan diterima sholatnya?" Jawabannya juga tidak ada. Terus kenapa terus sholat?

Dan akhirnya mungkin ada juga nanti pertanyaan yang menjurus seperti ini. "Apakah ada jaminan bahwa orang hari ini muslim, ketika meninggal juga dalam keadaan muslim?" atau "Apakah ada jaminan bahwa orang yang menjaga kesehatannya dengan menjaga asupan gizinya, berolahraga rutin akan hidup selamanya?" Jawabannya juga sama tidak ada.

Tidak ada jaminan apapun.

Terus mengapa kita tetap melaksanakannya? Jawaban yang menurutku bisa menenangkan kegundahan sahabatku adalah karena Allah meminta kita melaksanakannya.

Kenapa kita tidak diperkenankan pacaran dan dianjurkan dengan proses ta'aruf? Karena Allah sebagai Dzat yang kita akui sebagai Tuhan meminta kita melaksanakannya. Allah melarang kita mendekati zina. Ini juga menunjukkan ketundukan, kepasrahan, kecintaan kita kepada Allah yang telah sama-sama kita akui sebagai satu-satunya Rabb.

Kenapa kita tidak diperkenankan untuk menganggur dan diperintah untuk berusaha? Karena Allah sebagai Dzat Pengatur Rizki makhluk meminta kita untuk menjauhi menjadi beban bagi orang lain. Ia meminta kita sebagai makhluk-Nya untuk menghindari menjadi peminta-minta.

Kenapa kita tidak diperkenankan menjadi orang yang bodoh dan disuruh untuk belajar? Karena Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui, meminta kita untuk membaca dan belajar sehingga akan bertambah kebaikan dari ilmu yang kita dapatkan.

Karena Allah menyuruh kita. Bukan karena manfaat yang telah kita ketahui. Kita shalat bukan karena gerakan shalat membantu kebugaran. Kita shalat karena Allah meminta kita untuk shalat dan gerakannya sudah ditentukan-Nya melalui Rasulullah.

Kembali lagi ke topik pertanyaan di atas. Tidak ada jaminan bahwa yang cara Islami itu akan lebih langgeng. Zainab yang awalnya dinikahkan dengan Zaid oleh Rasulullah saja kemudian ternyata harus cerai. Bukan langgengnya pernikahan itu menjadi tujuan. Tapi sesuaikah caranya dengan yang diinginkan oleh Allah SWT.

Itulah ujiannya syahadat. Kita sudah mengetahui dan bersaksi bahwa yang layak disembah dan dita'ati adalah Allah. Kita juga sudah mengetahui dan bersaksi bahwa yang layak diikuti adalah Rasulullah. Sekarang tinggal bagaimana kita menjalani yang sudah kita ucapkan.

Wallahu A'lam bish Showab

Bagaimana menurutmu?


Tuesday, June 5, 2012

Rahasia "Man"

Siapapun bisa (diambil dari flickr.com)
"Man" di sini bukan dari bahasa Inggris yang berarti Manusia atau laki-laki. "Man" yang kumaksudkan berasal dari Mahfudzot. Kata "man" yang artinya siapa akan sering kita jumpai di sana. 

Secara umum, ia menunjukkan sebuah kata pertanyaan. Namun tidak di Mahfudzot. Aku melihat kata "man" memiliki makna yang lebih besar. Menurutku yang paling pas adalah bila ia diartikan sebagai siapapun. 

Maka, bila dalam "man jadda wajada" artinya adalah, siapapun yang bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkannya. Dan dalam "man saaro alaa ad-darbi washola" artinya, siapapun yang berjalan di atas jalannya sampailah ia. 

Kata "man" menjadi sebuah kata yang kuat. Ia menunjukkan netralitas dia tidak menunjuk apakah tua, muda, laki-laki, perempuan, anak-anak atau dewasa. Semua menjadi relevan ketika berhubungan dengan "man". Oleh sebab itu yang ada di dalam ungkapan mahfudzat menjadi relevan bagi siapapun. Baik jaman dulu atau sekarang.

Bahkan kata "man" tidak menunjukkan derajat keimanan seseorang. Artinya baik ia muslim atau tidak, mukmin atau munafik, ia akan memiliki derajat kemungkinan yang sama. Dan ini sudah menjadi bukti di berbagai peristiwa sejarah manusia. 

Ada orang yang memiliki kesulitan mendengar dan tidak belajar di lembaga pendidikan, bisa menjadi orang besar, macam Edison. Semua karena ia masuk dalam kategori "man jadda wajada". Steve Jobs yang meninggal barusan pun masuk dalam kategori ini. 

Maka, apakah kita sendiri mengimplementasikan apa yang ada dalam mahfudzat atau tidak semua tergantung kepada kita. Karena ia hanya mengandung kata "man", siapapun. Siapapun yang mengimplementasikannya akan menuai hasilnya. 

Wallahu A'lam Bish Showab

Thursday, May 31, 2012

Temukan Potensimu!

Dalam sebuah acara di kantor,seorang teman yang menjadi pembicara ketika itu mengemukakan sebuah diskusiyang berjudul Find Your Potency, “Temukan Potensimu!”. Aku jadi teringatbeberapa tahun yang lalu, tiga tahun yang lalu kalau tidak salah. Ketika ituaku masih sendiri (bujangan), fresh graduate, baru bekerja.

Aku tanya kepada seorang temankarib, “Menurut antum bagaimana sih kita bisa tahu potensi kita? Aku sudahmencoba berbagai macam tes kepribadian tapi tidak kunjung mengetahui potensiapa sebenarnya yang kumiliki?”

Dia menjawab, “Ada tiga yangharus senantiasa kau tanyakan dan kau jawab”

“Yang pertama, kegiatan apa yangkau sukai di masa lalumu? Ketika masih kecil apa yang gemar kau lakukan. Bisajadi ketika kau masih kecil, ketika beban kehidupan itu belum kau rasakan, kautelah melakukan sesuatu yang sangat kau cintai”

“Yang kedua, aktivitas apa yangmemberikan kenikmatan yang paling tinggi buatmu? Atau dengan kata lain,aktivitas ini akan tetap kau lakukan meski kau tidak mendapatkan bayaran samasekali atau bahkan mengorbankan sesuatu”

“Yang ketiga, aktivitas ataupengetahuan atau keahlian apa yang paling cepat kau kuasai? Bisa jadi keahlianini bagi sebagian orang sangatlah susah, tapi bagi dirimu ini seperti mengambilpermen dari anak kecil. Mudah sekali.”

Inilah jawaban untuk ketigapertanyaan di atas menurut versiku:

Di masa kecil aku sangat senangbercerita. Di masa kecilku aku adalah pendongeng yang ulung. Aku senangmendengarkan cerita dan senang menceritakannya ulang kepada orang lain. Akumasih mengingat hari-hari ketika geng kecil ku dulu akan menghentikanaktivitasnya untuk mendengarkan ceritaku.

Aktivitas yang paling membuatkumerasa nikmat adalah membaca, mengetahui sesuatu yang baru dan mengetahui carakerja benda, atau mungkin sebab musabab suatu peristiwa. Aku akan tetap membacameski aku tahu itu tidak berhubungan dengan pekerjaanku. Aku akan tetap mencaritahu meski itu harus menghilangkan waktu luangku.

Memudahkan yang sulit. Beberapahal yang bagi sebagian orang susah dipahami akan menjadi mudah setelah melaluibahasaku. Itulah menurutku. Karena aku senang dalam mencari pokok-pokok dalamsetiap hal. Aku ingin mencari pokok-pokok dalam ilmu kehidupan.

Itu adalah versiku, jadi mungkinbakatku adalah mencari tahu, mengenali pokok-pokoknya dan menceritakannyadengan versi yang lebih menarik.

Dan itulah yang kulakukan saatini. Semoga kamu juga menganggapnya menarik...

Apa jawabanmu atas tiga pertanyaan di atas? Silahkan dibagi dengan comment di bawah.
Wallahu A’lam Bishshowab.

Tuesday, May 29, 2012

Diakhiri dengan Takdir yang Berbeda

"Ya Allah Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ini dalam diin-Mu" Doa ini sebaiknya kita dawam-kan ketika menjelang salam setiap shalat. Bagaimana tidak bila kita mengetahui dua kisah dengan awal yang berbeda dan diakhiri juga berbeda berikut ini.

Kisah pertama adalah kisah tentang tukang-tukang sihir Fir'aun ketika menghadapi Musa as. Mereka adalah para sahabat Fir'aun di pagi hari.

Mereka diundang oleh Fir'aun untuk mengalahkan Musa dengan sihir mereka."Apakah kami akan mendapatkan ganjaran yang besar bila kami bisa mengalahkan Musa" Itu kata mereka.

"Oh, tentu saja, kalian akan mendapatkan ganjaran yang besar, dan kalian akan menjadi orang-orang dekatku". Jawab Fir'aun.

Kemudian berlanjutlah kisah tersebut sebagaimana di Surat Thahaa 57-76.

Ketika mukjizat Musa mengalahkan mereka, serta merta mereka bersujud dan mengaku beriman kepada Allah, Tuhan Musa dan Harun. Marahlah Fir'aun.

Ia mengancam mereka yang telah tunduk kepada tuhan selain dirinya. "Akan kupotong tangan dan kaki kalian, dan akan kusalib bila tetap mengaku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun."

"Silahkan sajalah kau mau melakukan apa saja kepada kami, itu hanya bisa kamu lakukan di dunia ini saja Fir'aun, tapi di akhirat, kami telah dijanjikan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai" Jawab para mantan tukang sihir tersebut.

Dalam Kisah Para Nabi dan Rasul karangan Imam Ibnu Katsir, Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka adalah penentang Allah di pagi hari dan menjadi syuhada' di siang hari. Subhaanallah.

Sedangkan kisah kedua adalah ketika Rasulullah menyatakan menjelang perang Khaibar bahwa akan ada orang yang berperang bersama umat Islam tapi dia masuk neraka. Maka ketika perang telah berakhir, para sahabat melihat orang yang dikabarkan oleh Rasulullah dalam kondisi yang luka parah. Namun mereka melihat ia berperang dengan sungguh-sungguh, apakah benar dia akan masuk neraka? Kenapa Rasulullah mengabarkan ia akan masuk neraka padahal dia berperang dengan sungguh-sungguh.

Di malam hari, ternyata diketahui orang tersebut kemudian bunuh diri karena tidak tahan dengan rasa sakit akibat luka peperangan yang dideritanya. Na'udzu billah min dzalik.

Sebuah kondisi yang berkebalikan. Yang pertama di pagi hari menjadi penentang Allah dan siang harinya bergelar syuhada'. Dan yang kedua, ketika berperang seakan-akan menjadi seorang pahlawan, nyatanya malah menjadi ahli neraka.

Memang yang dinilai Allah adalah di akhirnya. Maka, mari berdoa semoga kita senantiasa diberi keimanan hingga akhir hayat dan husnul khotimah (baik di akhirnya).

Wallahu A'lam Bishshowab.

Wednesday, May 23, 2012

Perang Badar bagi Wanita

Tema ini tidak sengaja teringat ketika aku sedang berkendara menuju kantor. Entah kenapa pikiran ini muncul kembali. Mungkin ia ingin dituangkan dalam kata-kata, pikirku.

Perang Badar adalah perang yang fenomenal dalam sejarah Islam. Ketika Rasulullah dan umat Islam hanya berniat untuk mencegat kafalah dagang Abu Sufyan, ternyata Allah menyiapkan skenario lain dalam kejadian saat itu. Mereka dengan peralatan yang seadanya karena tujuan awalnya adalah untuk mencegat harus berhadapan dengan pasukan yang jumlahnya mencapai tiga kali lipat dan perlengkapan perang yang benar-benar matang dipersiapkan.

Kita mungkin sudah tahu bagaimana kelanjutan kisah heroiknya. Namun saat ini aku tidak sedang ingin bercerita tentang heroiknya perang Badar dan para pelakunya. Tapi aku akan sedikit membayangkan apa yang terjadi di baliknya.

Bila suami pergi berperang, pastilah sang Istri sadar apapun bisa terjadi ketika perang. Luka, kehilangan anggota badan, bahkan syahid, meninggal di jalan Allah. Bila mereka, para istri pejuang Islam tidak menyadari dan memahami hal ini sebagai sebuah bagian dari jalan yang sudah digariskan Allah bersediakah mereka untuk ditinggal tanpa ada kejelasan masa depan?

Bila para istri ketika itu tidak memiliki pemahaman yang sama akan jihad, bisa jadi kebalikannya yang terjadi. Ketika suami akan pergi berangkat, si istri akan merengek meminta agar membatalkan perjalanannya. Atau ia akan bersedih, "Bila nanti engkau meninggal Bang, siapa yang akan memberikan nafkah kepada kami? Siapa yang akan mendidik anak-anak kita?"

Dan bila suami sudah ditanya tentang hal tersebut, pastilah muncul keraguannya dalam melakukan perjalanan.

Maka ketika sebuah perang terjadi, heroiknya pergulatan perang memang sangat sering diceritakan. Namun bagaimana dengan pergulatan rumah tangga yang ada? Jika saja para ibu dan istri tidak rela suami dan lelaki di keluarganya berangkat mungkinkah terjadi kisah heroik itu? Tidak.

Oleh karena itu, bukan kisah heroik saja yang harus diperhatikan dalam sebuah peperangan. Kesediaan, pemahaman, kerelaan untuk menerima takdir apapun yang diberikan oleh Allah juga menjadi sebuah keharusan dalam sebuah rumah tangga Islam.

Oleh karena itu bukan persiapan diri dan perbekalan perang saja yang dipersiapkan. Istri, anak dan keluarga juga harus dipersiapkan untuk menapaki jalan perjuangan Islam.

Wallahu A'lam Bis Showab

Thursday, March 15, 2012

Why Men 'Do Things' (Mengapa Lelaki selalu Memperbaiki Sesuatu)


Dalam buku "Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps" ada sebuah tulisan yang juga menarik untuk diperhatikan.

Ternyata otak laki-laki itu selalu bereaksi terhadap objek atau benda. Bagaimana bentuknya, apa hubungannya dengan benda yang lain dan seterusnya. Intinya tentang benda. Dalam kata lain, otak laki-laki itu selalu terhubung dengan "diapakan lagi ya agar tambah baik?" ketika berhubungan dengan berbagai masalah yang muncul.

Ada sebuah kisah, seorang istri meminta kepada suaminya agar menunjukkan rasa cintanya. Apa yang dilakukan oleh si suami?

Ia memotong rumput yang ada di halaman. halaman rumah mereka pun berubah. semua sudah teratur dan rapi. Menurut si Suami inilah ungkapan rasa cinta dan kasih sayangnya kepada si Istri.

Tapi menurut istri, itu hanya bersih-bersih halaman. "Mana rasa cinta dan kasih sayang yang ia inginkan?"

Lalu si suami pun beraksi kembali untuk menunjukkan betapa besar cintanya. ia mengecat tembok dapur.

Hasilnya, dapur kini menjadi kinclong dan bersih.

Namun ketika melihat raut wajah sang istri ia segera tahu bahwa yang ia lakukan belum cukup.

Sang suami yang capek, bingung dan kesal tidak tahu bagaimana lagi dia harus menunjukkan rasa cinta dan kasih sayangnya. "Apa lagi yang harus kuperbaiki?"

Ia putus asa, ia pun memilih untuk mengajak istrinya untuk melihat pertandingan sepak bola.
Wkwkwk.............


Itulah perbedaan cara pandang antara lelaki dan wanita. Ketika wanita merasa kesal ia akan berbicara dengan penuh emosi kepada temannya. Lelaki berbeda, ketika ia kesal, stres, pusing, ia akan membongkar pasang motor atau memperbaiki keran yang bocor atau apapun yang bisa ia kerjakan.

Bila wanita sering berfantasi tentang percintaan dan romansa, lelaki selalu membayangkan mobil, komputer yang lebih canggih, dan sepeda motor. Hal-hal inilah yang bisa mereka gunakan dan semuanya senantiasa berhubungan dengan kemampuan spasial.

Wallahu A'lam bish Showab

Kosa kata sulit:
Spatial Ability: being able to picture in the mind the shape of things, their dimensions, coordinates, proportion, movement and geography.

Kemampuan Spasial: kemampuan untuk menggambarkan dalam pikiran bentuk dari benda-benda, dua dimensi atau tiga dimensi?, letak koordinatnya, Proporsinya, pergerakan dan permukaannya.

Tuesday, March 13, 2012

Why Men Hate Being Wrong (Mengapa Laki-Laki tidak Senang dengan Salah)


Ini adalah sebuah jawaban yang kuanggap bisa mewakili kenapa muncul kisah Perjalanan Mencari Kantor Pos. Judul ini adalah sebuah tulisan dalam buku Why Men Don't Listen and Woman Can't Read Maps.

Bahasa gampangnya adalah bahwa dahulu, mungkin ketika jaman manusia prasejarah, lelaki adalah tumpuan keluarga. Ketika ia melakukan kesalahan dengan tidak mengumpulkan makanan yang cukup, maka ia sadar bahwa kebutuhan keluarganya akan tidak tercukupi. Ia merasa tidak mampu menjadi seorang lelaki sejati.

Namun sekarang ini ternyata perasaan atau tingkah laku tersebut masih ada pada diri lelaki. Dan perasaan ini muncul terutama bila ada wanita di sampingnya.

Bila dalam berkendara sendirian dan ia tersesat, maka si lelaki akan menepi dan bertanya.

Tapi berbeda bila ia bersama seorang wanita. Ketika seorang wanita berkata, "Ayo turun dan bertanya saja". Dalam kepala laki-laki yang ia dengar adalah, "Kamu tidak sanggup ya? Begini saja tidak tahu?." Ketika istri berkata, "Mas, air ledengnya bocor, panggil tukang ledeng aja ya?". Yang didengar oleh sang suami adalah, "Mas, dirimu tidak bisa mengerjakan ini khan, aku panggil orang lain saja ya?"

Hal tersebut juga lah yang menjadi alasan mengapa laki-laki sangat sulit untuk meminta maaf. Karena ketika mereka meminta maaf, berarti mereka mengakui diri mereka salah. Padahal ketika mereka salah, mereka merasa tidak berguna.

Maka ketika seorang lelaki berboncengan mencari kantor pos ditanya oleh istri yang diboncengnya, "Tidak tanya Bapak dan Ibu dulu tempat kantor posnya?". Yang didengar oleh sang suami adalah, "Kamu kan tidak tahu, kamu memang benar-benar tidak bisa diandalkan."

Dan bila diminta untuk menepi dan bertanya yang dirasakan oleh sang suami adalah bahwa ia dianggap istrinya sebagai orang yang tidak mampu. Wajarlah bila sang suami biasanya tidak akan turun dan bertanya.

Bagaimana solusinya?
Solusinya adalah sang wanita harus bisa membuat lelaki tidak merasa salah ketika mendiskusikan sebuah permasalahan.

Lelaki harus paham bahwa tujuan si wanita mengingatkan bukan untuk menyalahkan; tapi membantunya. Dan dia tidak harus menganggap semuanya serius.

Wanita ingin membantu agar lelaki yang dicintainya semakin baik, tapi si lelaki menginterpretasikannya bahwa ia kurang baik.

Seorang lelaki tidak akan mengakui kesalahan karena ia berfikir wanita tidak akan mencintai orang yang melakukan kesalahan.

Sedangkan sebenarnya wanita akan lebih mencintai seorang lelaki ketika ia mau mengakui kesalahannya.

Wallahu A'lam Bish Showab