Monday, June 18, 2012

"Man Shobaro Dhofiro"

مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ


Dalam terjemahannya, Mahfudzot yang ketiga ini diartikan sebagai berikut: “Siapa yang sabar beruntung”. Rencanaku untuk membuat tulisan tentang mahfudzot terhenti di sini. Bukan karena sesuatu yang sepele menurutku. Alasannya adalah karena makna sabar dalam terminologi pikiran orang Indonesia kupandang bukan seperti sabar yang seharusnya. Sekali lagi ini sih menurut pendapatku. 

Oleh sebab itu aku ingin mengartikan mahfudzot di atas dengan arti yang berbeda: “Siapa yang konsisten dan kontinyu  dalam kebaikan beruntung”. Hal ini kuharap bukan semata-mata bahasa otak-atik saja.

Dalam beberapa kesempatan Ustadz Rofi’ Munawar juga tidak sepakat bila sabar diartikan dalam arti defensif (dalam pikiran orang Indonesia, sabar berarti nrimo, dan tidak berusaha). Maka seringkali beliau membuat kata sabar memiliki arti yang provokatif dan ofensif. Namun bagiku, sabar itu adalah konsisten dan kontinyu dalam kebaikan.

Beberapa ayat di Al Quran, sabar senantiasa dihubungkan dengan hal-hal yang berat. Ia dimunculkan dalam beberapa peristiwa perang sebagaimana di Surat Al-Anfal 65-66. Kata sabar juga dimasukkan dalam kisah Thalut yang ditinggalkan sebagian besar Bani Israil namun mereka (Thalut dan sebagian kecil pasukannya) tetap melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah.

Ketika membuka tafsir ibnu Katsir tentang ayat 153 surat Al Baqarah: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. Sabar memiliki tiga dimensi

Dimensi pertama adalah menghindari larangan. Sabar harus diikutkan ketika ternyata hal-hal yang disukai ternyata dilarang dan ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk ditinggalkan.

Dimensi kedua adalah ibadah dan ketaatan. Sabar harus senantiasa digunakan ketika menjalankan ketaatan dalam bentuk ibadah kepada Allah. Meskipun ia tidak menyukainya, meskipun ia memiliki keterbatasan.

Dan dimensi ketiga adalah dimensi tabah dalam menghadapi ujian. Artinya tetap taat meski dalam ujian yang berat. Dan tetap menghindari larang meski banyak kenikmatan yang diberikan Allah.

Dari kesemua dimensi sabar itu semuanya menunjukkan nilai konsistensi dan kontinuitas. Seseorang yang sabar itu ialah mereka yang senantiasa berada dalam kebaikan, dan senantiasa berusaha untuk berada dalam kebaikan.

Dan untuk menunjukkan nilai kesabaran hamba-Nya, Allah memberikan ujian. Sejauh manakah konsistensi dan kontinuitasnya dalam kebaikan tetap terlaksana? Tidak hanya dalam kondisi yang sulit. Karena banyak orang yang berhasil ketika mendapatkan ujian berupa kesulitan hidup namun tidak berhasil dalam kenikmatannya.

Di kehidupan nyata konsisten dan kontinyu dalam kebaikan ini jugalah yang memiliki peran penting untuk menuju sebuah kesuksesan. Kita pasti sudah memiliki banyak kisah tentang konsisten dan kontinyu ini dalam berbagai macam kisah orang sukses di dunia. Muhammad saw, Ibrahim as juga para Nabi dan Rasul yang lain adalah sebuah teladan bagaimana mereka berdua tetap konsisten dan kontinyu dalam kebaikan meski banyak ujian mendera.

Begitu juga ketika berbicara tentang bisnis. Kita masih ingat Thomas Alfa Edison, Kolonel Sanders,  dan yang terakhir adalah Steve Jobs. Mereka adalah pioner di dunia bisnis dan mereka menjadi sukses karena tetap memegang teguh konsitensi dan kontinuitas dalam kebaikan. Kita banyak belajar bahwa kesuksesan seseorang adalah karena keuletan dan pantang menyerah, sebuah nama lain dari konsistensi dan kontinuitas atau dalam bahasa Islam Sabar.

Maka sekali lagi: “Siapa yang konsisten dan kontinyu dalam kebaikan beruntung”

Wallahu A’lam Bis Showab

Thursday, June 14, 2012

Jangan Engkau Masukkan Kami ke dalam Golongan Orang yang Merugi Ya Allah

Seketika aku melihat gambar itu aku menangis. Aku tidak tahu. Bahkan hingga sekarang aku mengingatnya aku masih ingin menangis. Sebenarnya itu bukanlah sebuah hal yang spesial bagi orang lain. Tapi bagiku itu adalah hal yang besar dalam hatiku. Dan aku menangis karena mengingat sebuah ayat yang pernah kubaca dan kucari tafsir Ibnu Katsir-nya.

Ayat itu adalah "Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (QS 18:110)

Dalam Tafsirnya, Ibnu Katsir menceritakan bahwa nanti di hari Akhir, ketika semua manusia datang untuk dihisab. Allah menyatakan ketika ada yang datang kepada-Nya, "Kenapa kau meminta kepadaku? Minta balasan saja kepada orang yang kau harapkan sanjungannya dulu. Tidak perlu kau meminta kepadaku! Minta saja kepada mereka!" (Kurang lebih seperti itulah penafsiranku).

Aku cuma membayangkan, ketika aku nanti datang ke hadapan Allah dengan mengharap limpahan rahmat-Nya ternyata kemudian Ia tidak menerimaku. Ia malah memintaku untuk meminta balasan kepada orang yang kuharap pujiannya ketika di dunia.

Duhai diriku, alangkah ruginya ketika itu.

Aku menangis ketika aku melihat foto beberapa ustadz terpampang di depan sebuah acara kajian akbar. Dalam hatiku aku berdo'a , "Ya Allah terimalah amal kami semua, kami telah berusaha di dunia untuk taat kepada aturan-Mu. Kami berdakwah kepada manusia untuk menyembah dan taat kepada-Mu. Jadikanlah diri kami ikhlas, tanpa riya', tanpa sum'ah dan 'ujub. Kami sadar ketika kami menduakanmu, hanya kerugian bagi kami di Yaumil Hisab"

Seketika itulah aku menangis, aku takut, aku khawatir bahwa para ustadz yang aku hormati, yang mereka telah berjibaku dalam dakwahnya, semua para hadirin yang turut dalam kajian itu untuk taat kepada Allah mereka malah menduakan-Nya. Mereka melakukan semua karena ingin mengharap pujian dan sanjungan dari manusia. Sehingga aku sangat sedih ketika membayangkan kami nanti hanya menemui kerugian di Yaumil Hisab.

"Berikanlah kami kekuatan untuk bersama di dunia dan bersama kelak di surga-Mu ya Allah." Terimalah semua amal kami, sholat kami, puasa kami, tilawah kami, dakwah kami, perjuangan kami ketika hidup di dunia. Limpahkanlah rahmat-Mu kepada kami!"

"Jauhkanlah diri kami Ya Allah dari segalah syirik baik kecil atau besar. Sungguh kami tidak mau menjadi orang yang merugi ketika berjumpa dengan-Mu Ya Allah"

Wallahu A'lam Bish Showab

Thursday, June 7, 2012

Jika Ternyata Ta'aruf tak Menjamin Langgeng....

"Bila proses menikah dengan ta'aruf tidak menjanjikan kelanggengan, ya buat apa?" Pernyataan salah seorang sahabat. Dia masih lajang bertanya-tanya dari hasil penglihatannya. Dan kesimpulannya menggelisahkan. Ternyata tidak semua proses menikah dengan jalan yang tanpa pacaran alias ta'aruf bisa langgeng. Bahkan ada yang tanpa pacaran pun bisa langgeng. Terus kenapa harus dengan ta'aruf yang ribet.

"Menarik juga pernyataannya" pikirku. Kalau memang tidak bisa menjamin kelanggengan kenapa harus dipaksakan? Toh tidak ada jaminannya.

Bagaimana bila pertanyaan tersebut kita tingkatkan levelnya sedikit atau kita geser ke arah yang lain. "Apakah ada jaminan bahwa orang yang berusaha itu menjadi kaya?" Jawabannya pasti juga tidak ada. Terus kenapa kok terus berusaha?

"Apakah ada jaminan bahwa orang yang belajar itu pasti sukses?" Jawabannya juga tidak ada jaminan. Terus kenapa terus belajar?

"Apakah ada jaminan bahwa orang yang sholat itu akan diterima sholatnya?" Jawabannya juga tidak ada. Terus kenapa terus sholat?

Dan akhirnya mungkin ada juga nanti pertanyaan yang menjurus seperti ini. "Apakah ada jaminan bahwa orang hari ini muslim, ketika meninggal juga dalam keadaan muslim?" atau "Apakah ada jaminan bahwa orang yang menjaga kesehatannya dengan menjaga asupan gizinya, berolahraga rutin akan hidup selamanya?" Jawabannya juga sama tidak ada.

Tidak ada jaminan apapun.

Terus mengapa kita tetap melaksanakannya? Jawaban yang menurutku bisa menenangkan kegundahan sahabatku adalah karena Allah meminta kita melaksanakannya.

Kenapa kita tidak diperkenankan pacaran dan dianjurkan dengan proses ta'aruf? Karena Allah sebagai Dzat yang kita akui sebagai Tuhan meminta kita melaksanakannya. Allah melarang kita mendekati zina. Ini juga menunjukkan ketundukan, kepasrahan, kecintaan kita kepada Allah yang telah sama-sama kita akui sebagai satu-satunya Rabb.

Kenapa kita tidak diperkenankan untuk menganggur dan diperintah untuk berusaha? Karena Allah sebagai Dzat Pengatur Rizki makhluk meminta kita untuk menjauhi menjadi beban bagi orang lain. Ia meminta kita sebagai makhluk-Nya untuk menghindari menjadi peminta-minta.

Kenapa kita tidak diperkenankan menjadi orang yang bodoh dan disuruh untuk belajar? Karena Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui, meminta kita untuk membaca dan belajar sehingga akan bertambah kebaikan dari ilmu yang kita dapatkan.

Karena Allah menyuruh kita. Bukan karena manfaat yang telah kita ketahui. Kita shalat bukan karena gerakan shalat membantu kebugaran. Kita shalat karena Allah meminta kita untuk shalat dan gerakannya sudah ditentukan-Nya melalui Rasulullah.

Kembali lagi ke topik pertanyaan di atas. Tidak ada jaminan bahwa yang cara Islami itu akan lebih langgeng. Zainab yang awalnya dinikahkan dengan Zaid oleh Rasulullah saja kemudian ternyata harus cerai. Bukan langgengnya pernikahan itu menjadi tujuan. Tapi sesuaikah caranya dengan yang diinginkan oleh Allah SWT.

Itulah ujiannya syahadat. Kita sudah mengetahui dan bersaksi bahwa yang layak disembah dan dita'ati adalah Allah. Kita juga sudah mengetahui dan bersaksi bahwa yang layak diikuti adalah Rasulullah. Sekarang tinggal bagaimana kita menjalani yang sudah kita ucapkan.

Wallahu A'lam bish Showab

Bagaimana menurutmu?


Tuesday, June 5, 2012

Rahasia "Man"

Siapapun bisa (diambil dari flickr.com)
"Man" di sini bukan dari bahasa Inggris yang berarti Manusia atau laki-laki. "Man" yang kumaksudkan berasal dari Mahfudzot. Kata "man" yang artinya siapa akan sering kita jumpai di sana. 

Secara umum, ia menunjukkan sebuah kata pertanyaan. Namun tidak di Mahfudzot. Aku melihat kata "man" memiliki makna yang lebih besar. Menurutku yang paling pas adalah bila ia diartikan sebagai siapapun. 

Maka, bila dalam "man jadda wajada" artinya adalah, siapapun yang bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkannya. Dan dalam "man saaro alaa ad-darbi washola" artinya, siapapun yang berjalan di atas jalannya sampailah ia. 

Kata "man" menjadi sebuah kata yang kuat. Ia menunjukkan netralitas dia tidak menunjuk apakah tua, muda, laki-laki, perempuan, anak-anak atau dewasa. Semua menjadi relevan ketika berhubungan dengan "man". Oleh sebab itu yang ada di dalam ungkapan mahfudzat menjadi relevan bagi siapapun. Baik jaman dulu atau sekarang.

Bahkan kata "man" tidak menunjukkan derajat keimanan seseorang. Artinya baik ia muslim atau tidak, mukmin atau munafik, ia akan memiliki derajat kemungkinan yang sama. Dan ini sudah menjadi bukti di berbagai peristiwa sejarah manusia. 

Ada orang yang memiliki kesulitan mendengar dan tidak belajar di lembaga pendidikan, bisa menjadi orang besar, macam Edison. Semua karena ia masuk dalam kategori "man jadda wajada". Steve Jobs yang meninggal barusan pun masuk dalam kategori ini. 

Maka, apakah kita sendiri mengimplementasikan apa yang ada dalam mahfudzat atau tidak semua tergantung kepada kita. Karena ia hanya mengandung kata "man", siapapun. Siapapun yang mengimplementasikannya akan menuai hasilnya. 

Wallahu A'lam Bish Showab

Thursday, May 31, 2012

Temukan Potensimu!

Dalam sebuah acara di kantor,seorang teman yang menjadi pembicara ketika itu mengemukakan sebuah diskusiyang berjudul Find Your Potency, “Temukan Potensimu!”. Aku jadi teringatbeberapa tahun yang lalu, tiga tahun yang lalu kalau tidak salah. Ketika ituaku masih sendiri (bujangan), fresh graduate, baru bekerja.

Aku tanya kepada seorang temankarib, “Menurut antum bagaimana sih kita bisa tahu potensi kita? Aku sudahmencoba berbagai macam tes kepribadian tapi tidak kunjung mengetahui potensiapa sebenarnya yang kumiliki?”

Dia menjawab, “Ada tiga yangharus senantiasa kau tanyakan dan kau jawab”

“Yang pertama, kegiatan apa yangkau sukai di masa lalumu? Ketika masih kecil apa yang gemar kau lakukan. Bisajadi ketika kau masih kecil, ketika beban kehidupan itu belum kau rasakan, kautelah melakukan sesuatu yang sangat kau cintai”

“Yang kedua, aktivitas apa yangmemberikan kenikmatan yang paling tinggi buatmu? Atau dengan kata lain,aktivitas ini akan tetap kau lakukan meski kau tidak mendapatkan bayaran samasekali atau bahkan mengorbankan sesuatu”

“Yang ketiga, aktivitas ataupengetahuan atau keahlian apa yang paling cepat kau kuasai? Bisa jadi keahlianini bagi sebagian orang sangatlah susah, tapi bagi dirimu ini seperti mengambilpermen dari anak kecil. Mudah sekali.”

Inilah jawaban untuk ketigapertanyaan di atas menurut versiku:

Di masa kecil aku sangat senangbercerita. Di masa kecilku aku adalah pendongeng yang ulung. Aku senangmendengarkan cerita dan senang menceritakannya ulang kepada orang lain. Akumasih mengingat hari-hari ketika geng kecil ku dulu akan menghentikanaktivitasnya untuk mendengarkan ceritaku.

Aktivitas yang paling membuatkumerasa nikmat adalah membaca, mengetahui sesuatu yang baru dan mengetahui carakerja benda, atau mungkin sebab musabab suatu peristiwa. Aku akan tetap membacameski aku tahu itu tidak berhubungan dengan pekerjaanku. Aku akan tetap mencaritahu meski itu harus menghilangkan waktu luangku.

Memudahkan yang sulit. Beberapahal yang bagi sebagian orang susah dipahami akan menjadi mudah setelah melaluibahasaku. Itulah menurutku. Karena aku senang dalam mencari pokok-pokok dalamsetiap hal. Aku ingin mencari pokok-pokok dalam ilmu kehidupan.

Itu adalah versiku, jadi mungkinbakatku adalah mencari tahu, mengenali pokok-pokoknya dan menceritakannyadengan versi yang lebih menarik.

Dan itulah yang kulakukan saatini. Semoga kamu juga menganggapnya menarik...

Apa jawabanmu atas tiga pertanyaan di atas? Silahkan dibagi dengan comment di bawah.
Wallahu A’lam Bishshowab.

Tuesday, May 29, 2012

Diakhiri dengan Takdir yang Berbeda

"Ya Allah Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ini dalam diin-Mu" Doa ini sebaiknya kita dawam-kan ketika menjelang salam setiap shalat. Bagaimana tidak bila kita mengetahui dua kisah dengan awal yang berbeda dan diakhiri juga berbeda berikut ini.

Kisah pertama adalah kisah tentang tukang-tukang sihir Fir'aun ketika menghadapi Musa as. Mereka adalah para sahabat Fir'aun di pagi hari.

Mereka diundang oleh Fir'aun untuk mengalahkan Musa dengan sihir mereka."Apakah kami akan mendapatkan ganjaran yang besar bila kami bisa mengalahkan Musa" Itu kata mereka.

"Oh, tentu saja, kalian akan mendapatkan ganjaran yang besar, dan kalian akan menjadi orang-orang dekatku". Jawab Fir'aun.

Kemudian berlanjutlah kisah tersebut sebagaimana di Surat Thahaa 57-76.

Ketika mukjizat Musa mengalahkan mereka, serta merta mereka bersujud dan mengaku beriman kepada Allah, Tuhan Musa dan Harun. Marahlah Fir'aun.

Ia mengancam mereka yang telah tunduk kepada tuhan selain dirinya. "Akan kupotong tangan dan kaki kalian, dan akan kusalib bila tetap mengaku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun."

"Silahkan sajalah kau mau melakukan apa saja kepada kami, itu hanya bisa kamu lakukan di dunia ini saja Fir'aun, tapi di akhirat, kami telah dijanjikan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai" Jawab para mantan tukang sihir tersebut.

Dalam Kisah Para Nabi dan Rasul karangan Imam Ibnu Katsir, Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka adalah penentang Allah di pagi hari dan menjadi syuhada' di siang hari. Subhaanallah.

Sedangkan kisah kedua adalah ketika Rasulullah menyatakan menjelang perang Khaibar bahwa akan ada orang yang berperang bersama umat Islam tapi dia masuk neraka. Maka ketika perang telah berakhir, para sahabat melihat orang yang dikabarkan oleh Rasulullah dalam kondisi yang luka parah. Namun mereka melihat ia berperang dengan sungguh-sungguh, apakah benar dia akan masuk neraka? Kenapa Rasulullah mengabarkan ia akan masuk neraka padahal dia berperang dengan sungguh-sungguh.

Di malam hari, ternyata diketahui orang tersebut kemudian bunuh diri karena tidak tahan dengan rasa sakit akibat luka peperangan yang dideritanya. Na'udzu billah min dzalik.

Sebuah kondisi yang berkebalikan. Yang pertama di pagi hari menjadi penentang Allah dan siang harinya bergelar syuhada'. Dan yang kedua, ketika berperang seakan-akan menjadi seorang pahlawan, nyatanya malah menjadi ahli neraka.

Memang yang dinilai Allah adalah di akhirnya. Maka, mari berdoa semoga kita senantiasa diberi keimanan hingga akhir hayat dan husnul khotimah (baik di akhirnya).

Wallahu A'lam Bishshowab.

Wednesday, May 23, 2012

Perang Badar bagi Wanita

Tema ini tidak sengaja teringat ketika aku sedang berkendara menuju kantor. Entah kenapa pikiran ini muncul kembali. Mungkin ia ingin dituangkan dalam kata-kata, pikirku.

Perang Badar adalah perang yang fenomenal dalam sejarah Islam. Ketika Rasulullah dan umat Islam hanya berniat untuk mencegat kafalah dagang Abu Sufyan, ternyata Allah menyiapkan skenario lain dalam kejadian saat itu. Mereka dengan peralatan yang seadanya karena tujuan awalnya adalah untuk mencegat harus berhadapan dengan pasukan yang jumlahnya mencapai tiga kali lipat dan perlengkapan perang yang benar-benar matang dipersiapkan.

Kita mungkin sudah tahu bagaimana kelanjutan kisah heroiknya. Namun saat ini aku tidak sedang ingin bercerita tentang heroiknya perang Badar dan para pelakunya. Tapi aku akan sedikit membayangkan apa yang terjadi di baliknya.

Bila suami pergi berperang, pastilah sang Istri sadar apapun bisa terjadi ketika perang. Luka, kehilangan anggota badan, bahkan syahid, meninggal di jalan Allah. Bila mereka, para istri pejuang Islam tidak menyadari dan memahami hal ini sebagai sebuah bagian dari jalan yang sudah digariskan Allah bersediakah mereka untuk ditinggal tanpa ada kejelasan masa depan?

Bila para istri ketika itu tidak memiliki pemahaman yang sama akan jihad, bisa jadi kebalikannya yang terjadi. Ketika suami akan pergi berangkat, si istri akan merengek meminta agar membatalkan perjalanannya. Atau ia akan bersedih, "Bila nanti engkau meninggal Bang, siapa yang akan memberikan nafkah kepada kami? Siapa yang akan mendidik anak-anak kita?"

Dan bila suami sudah ditanya tentang hal tersebut, pastilah muncul keraguannya dalam melakukan perjalanan.

Maka ketika sebuah perang terjadi, heroiknya pergulatan perang memang sangat sering diceritakan. Namun bagaimana dengan pergulatan rumah tangga yang ada? Jika saja para ibu dan istri tidak rela suami dan lelaki di keluarganya berangkat mungkinkah terjadi kisah heroik itu? Tidak.

Oleh karena itu, bukan kisah heroik saja yang harus diperhatikan dalam sebuah peperangan. Kesediaan, pemahaman, kerelaan untuk menerima takdir apapun yang diberikan oleh Allah juga menjadi sebuah keharusan dalam sebuah rumah tangga Islam.

Oleh karena itu bukan persiapan diri dan perbekalan perang saja yang dipersiapkan. Istri, anak dan keluarga juga harus dipersiapkan untuk menapaki jalan perjuangan Islam.

Wallahu A'lam Bis Showab