Mencari inti hidup dari Ayat-ayat Quran, serial Mahfudzot, serial Sun Tzu, serial HBR (Harvard Business Review), kehidupan sehari-hari dan sebagainya
Monday, June 20, 2011
مَنْ جَدَّ وَجَدَ
Friday, June 17, 2011
Brand Gak Cuma Logo Thok
Banyak orang mungkin mengartikan merek. Tapi untuk kali ini aku lebih menggunakan kata 'brand' saja.
Kebanyakan orang tidak mengerti bahwa yang namanya brand itu bukan logo thok. Tapi lebih dari sekedar itu. Berikut adalah penjelasan dari Pak Dan Pallotta.
Strategimu adalah Brand
Bila kita consumer brand, brand adalah produk kita dan cerita-cerita yang datang dengan produk itu. Maka misal kita memiliki produk yang rusak setelah dua hari dipakai, maka itulah brand kita. Keseriusan adalah brand. Dulu 1969 Nasa tidak punya logo yang bagus. Tapi ia punya brand. Kini ia punya logo yang lebih mengkilat, tapi brand-nya tidak memiliki makna sama sekali.
Cara Mengajak untuk Bertindak adalah Brand
Bila kita adalah sebuah organisasi sosial, banyaknya "Likes" di Facebook bukanlah sebuah sesuatu yang layak sebagai sebuah strategi. Hal-hal yang kita minta kepada konstituenlah yang menunjukkan Brand kita.
Customer service adalah Brand
Bila ada calon donatur yang menghubungi organisasi kita dan bersemangat, tapi kemudian diminta menunggu sampai kapan tidak jelas menunjukkan brand kita. Bila dalam sebuah acara dengan para donatur, mereka tidak dapat mengerti apa yang kita sampaikan dan kita tidak perduli menunjukkan itulah brand kita.
Cara kita berbicara adalah Brand
Bila ternyata website kita berisi tentang banyak hal yang tidak update itulah brand kita. Kalau pesan kita hanya berisi jargon-jargon, singkatan yang tidak penting berarti begitulah sebenarnya brand kita.
Semua sarana komunikasi kita adalah Brand
Bila ada lembaga yang neon box-nya masih bantuan tali rafia itulah pula brand-nya. Bila website kita ketika diklik malah error itulah brand kita.
Orang yang di lembaga kita adalah Brand
Orang-orang yang bekerja di lembaga adalah brand dan mewakili kita kepada masyarakat. Bila mereka bisa bekerja dengan baik dan terarah, teratur, itulah brand kita. Begitu juga sebaliknya. Bila ternyata kerja mereka hanya melakukan sesuatu yang tidak jelas. Itulah juga brand kita.
Fasilitas kita adalah Brand
Apakah fasilitas kita tercukupi untuk melakukan tugas-tugas yang dibutuhkan? Itu menggambarkan brand kita.
Logo dan gambaran juga adalah Brand
Brand yang besar layak mendapatkan logo yang bagus dan eye catching.
Intinya, brand adalah memberikan perhatian pada pekerjaan kita pada tiap levelnya, dengan detil mulai dari visi-misi, tenaga kerja, pelanggan dan interaksi yang akan kita jalankan, betapapun kecilnya hal tersebut.
Kita sadar atau tidak, punya logo yang keren atau tidak. kita punya brand. Pertanyaannya adalah apakah itu brand yang kita inginkan.
http://blogs.hbr.org/pallotta/2011/06/a-logo-is-not-a-brand.html
Dan Pallotta is an expert in nonprofit sector innovation and a pioneering social entrepreneur. He is the founder of Pallotta TeamWorks, which invented the multiday AIDSRides and Breast Cancer 3-Days. He is the president of Advertising for Humanity and the author of Uncharitable: How Restraints on Nonprofits Undermine Their Potential.
Thursday, June 16, 2011
Masih tentang SDN Gadel
Pikiran lain yang terlintas adalah teringat kisahnya Umar. Umar ngotot ke Rasulullah kenapa harus berhijrah dengan diam-diam. "Bukankah kita ini yang benar?? Bukankah ada Allah bersama kita??" Ungkap Umar. "Bila memang kita ini yang benar kenapa harus takut?" Akhirnya dibuktikan oleh Umar bin Khattab seorang diri sahabat yang lain berhijrah dengan bersembunyi.
Ada juga kejadian ketika perjanjian Hudaibiyah. Saat Rasulullah diminta untuk tidak datang tahun ini untuk haji. Rasulullah menyetujui permintaan pihak Makkah. Lagi-lagi Umar tidak setuju. "Apakah kita ini lemah? Apakah kita ini tidak berada dalam kebenaran yang dijamin oleh Allah?". Rasulullah tidak bergeming, meski ditantang oleh kefaqihan Umar. Para sahabat pun terdiam ketika melihat Umar 'menantang' Rasulullah. Rasulullah pun akhirnya tetap menjalankan keputusannya.
Bayanganku, mungkin Bu Siami mengalami kondisi yang sama dialami oleh Umar. Menurut pengetahuannya ia berada di atas kebenaran. Kenapa mesti takut? Kenapa Ia mesti gentar?
Kejadian ini adalah sebuah kejadian yang sengaja diperlihatkan oleh Allah. Sebagian besar kita mungkin sudah tahu bahwa kejadian yang sebenarnya dilaporkan oleh Bu Siami sudah menjadi rahasia umum. Pihak sekolah tidak ingin siswanya tidak lulus adalah sebuah hal yang lumrah. Pihak sekolah meminta agar ada contekan yang sistematis juga adalah hal yang lumrah terjadi. Bagi yang menolak ada kejadian ini mungkin patut dipertanyakan berapa lama ia tinggal di Indonesia.
Untuk mengganti hal yang lumrah terjadi walaupun jelek butuh proses yang panjang. Karena budaya tersebut juga dibangun pada waktu yang lama. Kecuali memang ada orang yang seperti Umar bin Khattab yang tak tergoyahkan. Harus ada tokoh yang memiliki kekuatan digdaya baik di sisi intelektual, kekuasaan, dan finansial tapi yang terutama kekuatan moral.
Masih ada orang seperti 'Umar bin Khattab' di Indonesia ini? Semoga....
Wallahu A'lam
Wednesday, June 15, 2011
مَنْ سَارَ عَلىَ الدَّرْبِ وَصَلَ
Tuesday, June 14, 2011
Kalimat yang Paling Ditakuti Pimpinan
"Nang Endhi Wae Sampean Cak!"
"Nang Endhi Wae Sampean Cak!"
Narasumber yang dihadirkan kulihat seakan-akan kaget dengan fenomena SD Gadel. Padahal kalau mau jujur, bisa kita lihat perkembangan di dunia pendidikan terkait fenomena ini. Apakah ada sekolah yang berkomentar? Apakah ada guru, dosen dan pelajar yang mendukung aksi Ibu pelapor?
Tidak ada. Atau tidak terekam mungkin.
Pikiranku mengatakan 'menepuk air di dulang terpercik ke muka sendiri'. Bila praktisi pendidikan memberikan komentar terkait hal tersebut, akan kena pada institusi pribadi mereka sendiri. Bukan karena sebab lain tapi karena memang begitulah jamaknya sekarang ini.
Sekolah mana sih yang tidak menjamaahkan mencontek? Guru mana sih yang tidak menugaskan siswanya menjadi sumber contekan. Kalau pun ada, berapa prosentasenya? Ke mana saja narasumber-narasumber beserta para komentator itu. Jangan-jangan mereka sekolah di luar negeri. Jangan-jangan anak-anak mereka sekolah di sekolah yang "berbonafide".
Kami yang di masyarakat saja tidak terlalu kaget. Karena itu sudah lumrah. Di sekolah memang pada umumnya contekan. Dan guru pada umumnya membiarkan hal itu terjadi. Dan bila sudah mendekati ujian kelulusan pada umumnya sekolah ingin meluluskan siswanya.
Itu sudah umum.
Jadi tidak usah terkaget-kaget. Ya beginilah Indonesia kita. Kita ingin dipimpin oleh pemimpin yang jujur tapi sekolah tempat menggodok pemimpin mengajarkan kecurangan. Kalau ketahuan curang ketika pilkada 'rame-rame' dihina dan dicaci.
Kalo kasus Gadel sih sebenarnya tidak perlu panjang asal SD Gadel bersedia menerima dan menjelaskan kepada orang tua murid yang lain bahwa yang dilakukan oleh pelapor adalah sesuatu yang benar dan harus dihargai. Bila hal ini segera dilakukan kasus ini tidak akan menjadi berbuntut panjang.
Ya, memang harus mengakui bahwa dirinya salah. Selama pihak sekolah dan dinas pendidikan tidak mau merangkul pelapor, bola panas ini akan semakin panas. Dan yang merasakan kerugiannya adalah anak-anak kita sendiri.
Wallahu A'lam
Monday, June 13, 2011
Apa Yang Membuatku Berfikir untuk Berhenti Setelah Sekian Lama Main Game?
Aku tidak tahu siapa yang menulis tulisan ini. Tapi tulisan ini semakin kubaca semakin membuat sesuatu dalam diriku berontak. Ada yang tidak setuju dalam dada dan pikiranku.
Ada yang tidak suka dengan kebiasaanku berlama-lama di depan komputer untuk main game. Dan ternyata yang tidak suka adalah diriku sendiri setelah membaca tulisan itu.
Tulisan itu berbunyi sebagai berikut.....
Bagaimana kalau setiap hari kita memiliki uang sebanyak Rp 86.400. Jumlah uang ini tidak akan bertambah dan berkurang setiap harinya. Ia tidak bisa disimpan. Begitu berganti hari. Akan datang kembali uang dengan jumlah yang sama di pagi hari. Dan ketika malam usai. Berapapun sisa yang tidak kita belanjakan akan lenyap.
Bila kita menemukan hal tersebut. Bila kita memiliki uang sebesar itu setiap harinya, apa yang akan kita lakukan? Apakah akan kita tabung? Tapi uang itu tidak bisa kita tabung. Sisa uang akan lenyap begitu hari berganti. Uang kembali sejumlah Rp 86.400 pun datang lagi.
Maka pilihan yang paling tepat adalah membelanjakan sepenuhnya. Karena ketika hari berganti kita akan diberikan uang yang baru. Kita harus membelanjakan ke Rp 86.400 sampai koin seratus terakhir. Sangat rugi bila ternyata ada orang yang tidak ingin membelanjakannya. Karena ketika hari berganti sisa uang tidak bisa diganti. Hari baru akan mendatangkan uang baru dengan jumlah yang sama.
Ternyata , disadari atau tidak kita semua manusia mengalami hal tersebut. Tiap hari kita diberikan 86.400 tapi tidak dalam bentuk rupiah melainkan detik. Semua manusia dari Indonesia sampai London memiliki hal ini. Setiap hari berganti tidak ada detik yang bisa disimpan. Semua akan lenyap bersama hilangnya malam.
Begitu datang pagi hari 86.400 detik pun datang lagi. Tapi ia bukan detik kemarin atau detik esok hari. Ia adalah detik hari itu. Maka bagaimanakah kita akan membelanjakan detik itu? Apakah kita hanya akan berada di depan komputer seharian. Tanpa aktivitas nyata. Tanpa mengetahui perkembangan di luar sana.
Semua kembali kepada manusianya. Semua sudah diberikan 86.400 yang sama. Tapi yang dilakukan oleh satu manusia dengan manusia lain jelas berbeda. Termasuk yang manakah kita? Apakah yang menghabiskan 86.400 dengan aktivitas terbaik. Atau yang menghabiskan 86.400 dengan aktivitas yang sia-sia.