Thursday, April 21, 2011

Ingin Dapat Kondisi Ideal? Ini Caranya....

Masih berhubungan dengan tulisan sebelumnya. Ada sebuah kisah yang ada di buku Adam Khoo yang berjudul Master your Mind Master Your Destiny. Dan sepertinya ini adalah hikmah yang hilang di dunia Islam. Dan karena yang paling berhak atas hikmah adalah umat Islam maka saat ini saya akan membaginya ke semua.

Dikisahkan ada seorang yang berpangkat manajer yang datang ke Adam Khoo. Dia ingin berkonsultasi, katanya. Nyatanya yang dia lakukan adalah mengeluh. Dia mengeluhkan kinerja anak buahnya. Karena anak buahnya tidak bisa ini dan itu, sehingga ia tidak bisa mencapai target yang sudah diberikan oleh pimpinannya. Dia selalu mengeluh bahwa anak buahnya tidak kompeten, malas, gampang menceritakan keburukan organisasi ke lembaga atau organisasi lain.

Ketika semua uneg-unegnya telah dikeluarkan, kini giliran Adam Khoo berbicara. "Pak, kalo menurut anda sebenarnya pegawai atau anak buah yang baik itu seperti apa sih? Coba anda buat daftarnya! Apa saja kemampuan yang harus dimiliki oleh anak buah anda?"

Si Manajer kemudian membuat daftar dari kemampuan-kemampuan ideal seorang pegawai. Komunikasi yang bagus, bisa membuat presentasi yang menawan, selalu mendukung keputusan perusahaan, mau bekerja keras, bisa memberikan solusi atas permasalahan yang ada, cepat mengambil keputusan, tidak gampang putus asa, dan lain sebagainya.

Setelah selesai, si Manajer kemudian menyerahkan daftar kompetensi pegawai yang telah ia buat ke Adam Khoo. Adam Khoo bertanya kepada si Manajer yang ternyata membuat si Manajer terdiam berpikir keras. Yang ia tanyakan adalah, "menurut anda bila ada pegawai yang memiliki kemampuan seperti itu apakah dia mau bekerja untuk anda?" Skak Mat.

Si Manajer terdiam tidak bisa menjawab.

Memang benar, kita sering meminta orang lain untuk berubah lebih kompeten lebih bekerja keras. Tapi kadang kita lupa bahwa untuk membuat lingkungan kita berubah, kita seringkali harus merubah diri kita terlebih dahulu. Dan ini memang berat. Untuk mendapatkan pegawai yang kompeten, kita harus merubah diri kita sehingga kita layak untuk mendapatkan pegawai yang kompeten. Untuk mendapatkan murid yang brilian, seorang guru harus mengubah dirinya dari guru yang kaku menjadi guru yang kreatif. Untuk mendapatkan anak yang rajin belajar, sang orang tua terlebih dahulu harus merubah dirinya menjadi seseorang yang giat belajar. Ingin mendapatkan mad'u yang berpotensi dan patuh, sang da'i harus merubah dirinya dulu menjadi orang yang layak mendapatkan kepercayaan da'i.

Bagaimana dengan anda? Apakah anda ingin keadaan di lingkungan anda lebih baik? Mulailah ubah diri anda sehingga anda layak untuk mendapatkan perubahan yang baik.

Wallahu A'lam Bish Showab.

Tuesday, April 19, 2011

Hutang untuk beli rumah dan utang untuk kuliah.... bagaimana di Amerika?

Pemikiran ini muncul ketika saya baca sebuah artikel dari economist.com. Di sana diceritakan bagaimana sekarang ini muncul sebuah persoalan baru di Amerika. Bergeser dari besarnya kredit perumahan di sana yang menyebabkan krisis ekonomi.

Kini kredit tidak hanya rumah, untuk kuliah sekarang ada utang-utangannya. Iming-imingnya jelas. Kalo punya gelar lebih tinggi pasti dapat kerja lebih bagus. Katanya.

Itu juga belum tentu juga. Maka ada di sana salah seorang entrepreneur memberikan beasiswa sebesar 100 ribu dollar kepada 20 orang agar tidak masuk kuliah. Mereka diminta untuk memulai bisnis mereka sendiri.

Ada sisi lain sebenarnya yang menarik bagi saya. Wah ternyata tujuan pendidikan adalah untuk mencari uang. Dan karena tujuannya adalah untuk mencari uang. Hanya itulah yang akan didapatkan bagi mereka yang akan berangkat kuliah. Tidak perbaikan tingkah laku, perilaku, keilmuan. Tidak ada. Yang ada hanyalah mencari uang.

Padahal Rasul berpesan 9 dari 10 pintu rizki adalah berdagang. Maka berbisnislah.

Bukan berarti tidak boleh kuliah. Tapi tujuan untuk kuliah sebaiknya diperbaiki lagi. Masak hanya untuk cari uang. Rugi lah waktu selama 4 tahun bahkan lebih bagi yang mbangkong.

Kok jadi semakin tidak jelas ya...

Ini tanda harus segera pulang.

Wallahu A'lam bish showab.

Tidak Ada Murid yang Bebal, Yang ada hanya guru yang tidak kreatif..

Itu adalah salah satu kalimat yang kusukai ketika membaca bukunya Adam Khoo. Dia menceritakan betapa banyaknya orang tua dan guru yang mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi yang menimpa dirinya. Mereka menjumpai bahwa anak, murid yang mereka temui ternyata pemalas, nakal dan tidak bisa menangkap pelajaran sama sekali.

Kondisi menjadi korban ini memang melenakan. Karena menjadi korban, orang tua dan guru yang mengeluh seakan-akan menjadi obyek dari murid dan anak yang nakal.

Sebenarnya yang terjadi adalah karena tidak ada keinginan untuk menjadi guru atau orang tua yang lebih baik. Ketika sang anak terjerat narkoba, orang tua cenderung menyalahkan pergaulan anaknya. Sementara dirinya belum menjadi orang tua yang bisa dijadikan anak tempat mencurahkan perasaan.

Guru, ketika siswanya tidak lulus atau gagal ujian menyalahkan muridnya karena tidak rajin belajar. Tapi dia sendiri tidak pernah berubah agar pelajaran yang ia sampaikan menjadi suatu yang menarik bagi siswa-siswanya.

Seorang pemimpin selalu mengeluhkan bawahannya yang tidak kompeten. Namun dia sendiri tidak pernah berintrospeksi apakah dirinya telah menjadi teladan dan memberikan kesempatan bagi anak buahnya untuk berkreasi.

Seorang da'i mengeluhkan mad'u atau masyarakat yang menjadi permisif (bebas). Tapi sang da'i juga belum berubah untuk mengajak kepada Islam dengan cara yang bijaksana.

Tidak ada murid yang dungu, bebal dan nakal, yang ada hanya guru yang tidak kreatif dan kaku.

Tidak ada anak yang nakal, brutal, yang ada hanya orang tua yang belum tahu bagaimana seharusnya menjadi orang tua.

Tidak ada anak buah yang tidak kompeten dan malas, yang ada hanyalah pemimpin yang belum bisa menjadi teladan dan memberi kesempatan anak buah untuk belajar.

Tidak ada mad'u yang tidak berpotensi, tidak memiliki semangat Islam, yang ada hanya da'i yang tidak mengajak mereka dengan cara yang bijaksana dan manusiawi.

Masih banyak lagi yang lain... silahkan ditambahi sendiri.............
Tidak ada ........ yang........, yang ada hanya.......... yang ...........
Tidak ada ........ yang........, yang ada hanya.......... yang ...........
Tidak ada ........ yang........, yang ada hanya.......... yang ...........
Tidak ada ........ yang........, yang ada hanya.......... yang ...........
Tidak ada ........ yang........, yang ada hanya.......... yang ...........

Ketika Anak Meng-Kafir-kan Orang Tuanya...

Sedih, ..... Marah,.... Itu adalah sesuatu wajar ketika mendengar cerita yang memilukan tentang ayah dari seorang anak bernama Muhammad Syarif.

Sang ayah menangis ketika, ia mengisahkan suatu saat ketika ia berdebat dengan sang anak. Hingga muncul sebuah kalimat dari sang anak yang mengatakan bahwa sang ayah adalah seorang kafir.

Rasulullah saja yang jelas-jelas memiliki seorang paman, Abu Thalib, yang kafir tidak pernah mengatakan kata-kata seperti itu. Bahkan beliau menghormati sang paman. Tapi sungguh perilaku dan perkataan sang Anak melebihi contoh yang diberikan oleh Rasulullah.

Hal yang membuat saya berpikir adalah betapa gampangnya sang pelaku mengatasnamakan Islam atas tindakannya tersebut. Saya tidak habis pikir. Islam yang mana yang mengkafirkan ayahnya sendiri? Islam yang mana yang menghalalkan darah muslim yang lain? Saya tidak tahu lagi Islam yang mana yang diamalkan.

Aku tahu, aku pun pernah merasakan gejolak semangat yang membara ketika pertama kali tersadar tentang betapa banyak maksiat yang telah kulakukan. Semangat Islamku menggelora, sehingga melihat semua hal selalu dengan hitam dan putih, benar dan salah. Aku bersyukur kepada Allah bahwa sebelum aku melakukan seperti yang dilakukan Syarif, aku bersemangat untuk membaca terutama membaca sirah atau sejarah Rasulullah. Dan juga buku-buku yang bercerita tentang sirah sahabat.

Ketika itulah aku menyadari betapa tolerannya Rasulullah. Namun di samping toleransi beliau yang besar, ada sebuah ketegasan yang jelas. Beliau tetap memberi makan kepada seorang yahudi buta yang ketika diberi makan masih mencaci maki Rasulullah. Beliau masih memaafkan Abu Sufyan, walaupun ketika masih di Mekkah, Abu Sufyan bersama Abu Jahal sama-sama memusuhi Rasulullah.

Begitu juga dengan kisah-kisah sahabat Rasulullah yang lain. Generasi sahabat adalah sebuah contoh perilaku kehidupan yang indah. Tidak ada sikap memusuhi akibat perbedaan tauhid. Yahudi dan Nasrani tidak dimusuhi. Selama mereka tidak menunjukkan niatan untuk memusuhi Islam dan mengusik masyarakat Islam, mereka akan bisa hidup berdampingan dengan aman.
Sungguh sangat disayangkan syarif tidak belajar dengan baik. Ia hanya melihat dan mendengar dari satu sisi. Ia gagal melihat kesempurnaan Islam yang toleran terhadap kehidupan sosial namun tegas terhadap tauhid. Semangatnya yang bergelora setelah mendapatkan pencerahan malah membuat langkah yang salah.

Hal Kedua yang menjadi perhatianku adalah, betapa tidak sabarnya dakwah yang dilakukan oleh Syarif dan gerakannya. Mereka tidak sadar bahwa dakwah Rasulullah bisa tersebar ke seluruh dunia setelah Rasulullah 23 tahun berdakwah. Bukannya waktu yang lama yang menjadi ukuran. Tapi perilaku ketika berdakwah itulah yang menjadi ukuran.

Ketika berdakwah, yang dilakukan oleh Rasulullah adalah dengan menunjukkan perilaku yang sungguh mulia. Pun ketika sudah berada di Madinah, Rasulullah tidak serta merta mengusir Yahudi, kecuali kaum yahudi sendiri yang menunjukkan pelanggaran terhadap kesepakatan yang mereka sepakati dengan Rasulullah.

Aku berpikir, jangan-jangan mereka tidak sabar dan tidak tahan dengan kondisi dakwah. Karena banyak orang yang di lingkungannya tidak ikut dalam dakwahnya mereka panik. "Daripada saya berjuang dalam waktu yang lama dan tidak ada yang mau ikut. Lebih baik kita bunuh semua saja yang tidak mau ikut". "Yang penting kita khan sudah berusaha". Begitu mungkin ya!

Wallahu A'lam Bish Showab

Monday, April 18, 2011

Ketika CCTV ikut UN

Terkejut dan kaget. Itu adalah reaksiku ketika melihat sebuah berita di Metro TV. Di Bogor, ada sejumlah sekolah yang bertaraf internasional memasang CCTV. Dan setelah ditelusuri ternyata tidak hanya di Bogor, di Purwokerto pun memasang CCTV.

Ada banyak alasan memang yang membuat sekolah tersebut memasang CCTV. Ada yang berdalih untuk diketahui publik bahwa sekolahnya memang tidak berniat untuk berbuat curang pada ujian kali ini.

Namun, satu hal yang pasti, terbayang dalam benak saya, bahwa sekolah yang seharusnya tempat mengajarkan kejujuran kini tidak lagi bisa dipercaya. Guru yang seharusnya menjadi panutan untuk berbuat jujur tidak lagi bisa diandalkan. Sungguh sebuah kepiluan yang mendalam.

Ternyata pendidikan kita yang ingin mewariskan kepada generasi muda nilai-nilai kebaian tidak lagi bisa diharapkan. Bagaimana tidak, wong ketika ujian saja harus dipantau CCTV. Seakan-akan guru dan sekolah bukan lagi tempat yang tepat untuk menempa siswa dalam mempraktekkan arti sebuah kejujuran.

Atau mungkin saya yang terlalu ideal. Padahal kita semua sudah tahu banyak sekolah-sekolah yang menganjurkan siswanya agar saling membantu dalam menjawab soal ujian. Banyak guru yang menjadi pengawas mendiamkan perbuatan curang karena di sekolah tempat ia mengajar guru lain juga bersedia untuk mendiamkan. Sama-sama menguntungkan. win-win solution lah bagi kedua belah pihak.

Ya mungkin kejujuran memang bukan lagi yang utama dalam mendidik anak-anak kita. Tidak heran kalo Indonesia menjadi tempat yang tidak lagi gemah ripah loh jinawi. Karena penduduknya memang masih mewariskan ketidakjujuran bagi anak-anaknya.

Wallahu a'lam bish showab.

Friday, April 15, 2011

Tanggung Jawab memang Tidak Mudah

Bukan sesuatu yang sulit sebenarnya kata tanggung jawab untuk diucapkan. hanya terdiri dari dua rangkaian kata. Namun untuk melaksanakannya berbeda..

Baru kemarin aku membaca buku Adam Khoo tentang Responsibility. Keren benar si Adam Khoo itu menggabarkan sebuah tanggung jawab. Tanggung Jawab itu beda dengan menyalahkan diri sendiri. Tanggung Jawab adalah sesuatu yang beda.

Ketika kita mendapatkan sebuah masalah, kita cenderung menyalahkan selain dari diri kita. Terkadang kita menyalahkan istri yang tidak mendukung, anak yang nakal, saudara yang hanya bisa mencibir, teman kerja yang tidak kompeten dan lain sebagainya. Bahkan ada yang menyalahkan presiden, mentri atau anggota DPR yang tidak lagi peduli dengan nasib rakyatnya.

Memang setelah itu, kita akan merasa lebih baik. Karena kita akan mendapatkan empati dari orang lain. Bahwa kondisilah yang menyebabkan kita menjadi seperti sekarang ini. Tapi Adam Khoo mengatakan kalo kita menyalahkan kondisi atau keadaan selain dari keadaan diri kita, maka kekuatan untuk memegang kendali atas nasib kita akan dimiliki oleh kondisi. Bukan di atas tangan kita sendiri.

Menyalahkan orang lain itu melenakan, karena itu akan membuat kita tidak mau berubah.

Tanggung jawab itu bukan menyalahkan diri sendiri. Kita menyalahkan diri kita bahwa kita ini pencundang, memang tidak bisa atau tidak mampu mengatasi masalah apapun.

Tanggung jawab itu adalah menyadari bahwa yang terjadi pada diri kita adalah sepenuhnya tanggung jawab dari diri kita sendiri. Bukan orang lain, keadaan, istri, teman kerja. Mengapa teman kerja kita tidak kompeten, karena mungkin kita tidak pernah membagi keahlian dan pengetahuan yang kita miliki sehingga mereka menjadi tidak kompeten.

Sebuah ilmu yang berat, karena ketika baru membaca sudah kejadian di siang harinya. Yang seharusnya ada pekerjaan menanti malah mendahulukan permintaan teman sehingga pekerjaan sendiri terbengkalai. Kalo kemudian menyalahkan teman yang meminta, berarti kita tidak bertanggung jawab terhadap tugas yang sudah diembankan kepada kita. Berat memang karena itu menunjukkan betapa lemahnya kepemimpinan diri kita. Tapi memang itu caranya untuk berubah menjadi lebih baik. Mau bagaimana lagi.

Orang-orang yang sukses tidak pernah menyalahkan keadaan. Kalo orang boleh menyalahkan keadaan maka yang paling layak adalah Rasulullah. Beliau mendapatkan ujian yang besar. Dan memang kondisi masyarakat seperti itu. Tapi yang dilakukan Rasulullah berbeda, ia tetap berusaha meski mendapat cacian, hinaan, dan ancaman pembunuhan.

Ahh, sebuah pengalaman yang mendidik untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Wallahu A'lam bishshowab.

Thursday, April 14, 2011

Enam Langkah Mudah Menghasilkan Uang (bag. terakhir)

Langkah ke enam

Coba dan Coba lagi

Sebagaimana kubilang sebelumnya, semua ini hanyalah masalah latihan. Mau belajar main drum atau belajar bisnis semuanya sama. Awalnya memang tidak sukses. Kedua kali dan berikutnya mungkin juga tidak membaik. Tapi semakin lama dan dengan banyak latihan, akhirnya pasti nyampe juga.

Ini ada latihan mudah untuk menghasilkan uang. Cobalah beli sesuatu barang di pusat barang bekas. Carilah barang yangk kira ada banyak persediaan dan permintaan. Beli dan segera jual. Lalu belilah lagi. Jual dengan harga yang lebih mahal dari yang kita beli. Berapa keuntungan maksimal yang kita peroleh. Lihat berapa hasilnya setelah 10 kali transaksi.
Lalu mulailah merubah sesuatu. Mulai tambah ada penjelasan, katalog, tambah dengan foto, pokoknya cobalah sesuatu yang terpikirkan.

Cobalah, karena tidak ada resiko yang serius. Kalo sudah punya produk atau bisnis tidak perlu buat produk baru atau bereksperimen yang aneh-aneh. kalo belum punya bisnis, ini adalah cara yang tepat untuk mencoba otot bisnismu.
Selesai.

Rangkuman enam langkah mudah menghasilkan uang
1. Pahami cara berpikir calon pembeli
2. Jual barang yang anda sendiri mau beli
3. Kalo memang bagus, pasang harga lebih
4. Coba dengan pricing yang berbeda
5. Jangan Nyantai, Bayankan tidak ada dana cadangan
6. Latihan lagi-dan lagi.